SAMPANG, NEWS9 – Sejumlah wali murid di SDN Gunung Sekar 1, Kabupaten Sampang, mempertanyakan kewajaran harga menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Dapur 003 Tanggumong dan dikelola Yayasan Dapur Sahabat Peternak.
Mereka menilai komposisi menu yang disajikan tidak sebanding dengan harga komponen makanan di pasaran.
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, setelah menelaah beberapa menu yang diterima siswa, terdapat indikasi harga bahan pangan yang dinilai tidak realistis.
“Kalau saya telaah, harga dari dapur tidak masuk akal. Masa irisan tahu isi tepung dihargai Rp2.600, pisang juga Rp2.000. Rata-rata harga dinaikkan sekitar Rp500 per item,” ujarnya kepada wartawan.
Ia juga merinci keuntungan tiap dapur dari pengadaan bahan saja bisa mencapai ratusan juta sejak awal beroperasi, ini bisnis berkedok program MBG.
“Coba di hitung keuntungan dapur sejak beroperasi, hitung aja selama 5 bulan, bisa ratusan juta kan.!” imbuhnya dengan senyum kecil.
Ia mencontohkan sejumlah menu posrsi kecil yang dibagikan kepada anaknya dalam beberapa hari terakhir.
Pada Jumat (6/3), siswa menerima satu sandwich fruitsando, tiga butir telur puyuh rebus, serta susu kemasan 125 ml.
Kemudian pada Sabtu (7/3), menu yang diberikan berupa susu, irisan tahu isi tepung, dan satu buah pisang.
Sementara pada Selasa (10/3), paket MBG terdiri dari satu roti bun merek Sari Roti, satu telur rebus, serta tiga butir kurma dalam kemasan kecil.
Menurutnya, komposisi menu tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan orang tua siswa mengenai transparansi harga dan pengelolaan dapur MBG.
“Ini dapur terasa seperti toko yang mencari keuntungan semata, bukan menjalankan program MBG. Lebih cenderung bisnis berkedok program MBG,” katanya.
Program MBG sendiri sebelumnya ditegaskan pemerintah sebagai program sosial, bukan kegiatan bisnis.
Mengutip pernyataan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, pada (7/3), program Makan Bergizi Gratis sejak awal dirancang sebagai investasi sosial dan kemanusiaan.
“Program MBG tidak pernah dirancang sebagai program bisnis. Para mitra diingatkan agar tidak memiliki orientasi bisnis dalam pelaksanaannya,” ujar Nanik.
Menanggapi kritik tersebut, pemilik SPPG 003 Tanggumong, Nafizah, mengatakan pihak dapur telah mencantumkan rincian harga menu setiap hari dan dapat dicek secara terbuka.
“Harganya sudah kami cantumkan setiap hari dan bisa dicek juga,” ujarnya melalui pesan WhatsApp kepada News9.id.
Ia menjelaskan, mekanisme komunikasi antara penerima manfaat dan pengelola dapur telah diatur oleh Badan Gizi Nasional.
Setiap keluhan atau saran dari siswa dan wali murid disalurkan melalui wali kelas atau kader, kemudian diteruskan ke kepala sekolah atau Puskesmas Pembantu sebelum disampaikan ke tim dapur.
Menurut Nafizah, sistem tersebut dirancang agar setiap masukan dapat segera ditindaklanjuti. Ia mencontohkan kasus temuan buah salak dengan kualitas kurang baik yang sempat dilaporkan sekolah.
“Tim dapur segera berkoordinasi dengan pihak sekolah setelah laporan tersebut, dan keesokan harinya diganti dengan buah yang kualitasnya baik,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap pengantaran menu MBG disertai dokumen penerimaan paket yang memuat penilaian kualitas makanan atau uji organoleptik.
Data tersebut, menurutnya, dapat dijelaskan lebih rinci oleh tim ahli gizi yang terlibat dalam program.
“Kami berharap ada sinergi positif untuk menyukseskan program ini dengan kolaborasi yang suportif,” ujarnya.
Perdebatan mengenai transparansi harga dan kualitas menu MBG di Sampang menunjukkan pentingnya pengawasan publik serta komunikasi terbuka antara penyedia layanan, sekolah, dan masyarakat agar tujuan utama program pemenuhan gizi anak tetap terjaga. ***













>