Eksplorasi Migas di Kepulauan Kangean: Antara Harapan Energi Nasional dan Kegelisahan Warga Pesisir

- Redaktur

Minggu, 15 Juni 2025 - 17:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Ketua Umum Badko HMI Jatim, Yusfan Firdaus, @by_News9.id

FOTO: Ketua Umum Badko HMI Jatim, Yusfan Firdaus, @by_News9.id

SURABAYA, NEWS9 – Pemerintah terus mendorong upaya pencarian sumber energi baru demi mendukung ketahanan energi nasional. Salah satu wilayah yang kembali menjadi fokus adalah perairan Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Namun, rencana eksplorasi minyak dan gas bumi melalui survei seismik di wilayah itu kembali menuai penolakan dari sejumlah elemen masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.

Penolakan terbaru datang dari Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Timur.

Melalui pernyataan resminya, Ketua Umum Badko HMI Jatim, Yusfan Firdaus, menyampaikan bahwa proyek eksplorasi migas itu dikhawatirkan mengancam ekosistem laut serta mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal yang selama ini sangat bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan.

“Kami menilai bahwa laut di Kepulauan Kangean bukan objek eksperimen industri migas. Ia adalah ruang hidup masyarakat yang bergantung pada laut sebagai sumber nafkah dan bagian dari identitas kolektif mereka,” ujar Yusfan, Sabtu (15/6).

Kritik yang dilayangkan Badko HMI Jatim tidak berdiri sendiri.

Baca Juga:  Sidak Bupati Lumajang Bongkar Praktik Penahanan Ijazah, Publik Beri Apresiasi

Dukungan terhadap penolakan eksplorasi juga datang dari organisasi lokal seperti Lakpesdam NU Kangean, akademisi, serta sejumlah tokoh agama.

Mereka menyoroti potensi kerusakan ekologis akibat aktivitas survei seismik, terutama mengingat karakteristik geologis perairan Kangean yang dinilai sensitif terhadap getaran bawah laut.

Salah satu jurnal ilmiah, Geosaintek, mencatat bahwa kawasan barat daya Pulau Kangean menyimpan potensi gas biogenik, namun memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati dalam pengelolaannya.

Risiko terhadap ekosistem dasar laut dan potensi terganggunya aktivitas nelayan tradisional menjadi alasan utama kekhawatiran warga.

Berdasarkan pantauan Media ini dan laporan media lokal, proses perizinan dan sosialisasi proyek dinilai belum sepenuhnya transparan.

Baca Juga:  Pererat Sinergitas, Kapolres Lamongan Silaturahmi ke Sejumlah Tokoh Agama

Warga setempat mengaku belum banyak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berpotensi berdampak langsung pada ruang hidup mereka.

Yusfan menegaskan bahwa pemerintah harus mengedepankan prinsip keberlanjutan dan keadilan ekologis.

“Negara tidak boleh semata memandang sumber daya alam sebagai instrumen ekonomi. Jika pembangunan mengorbankan masyarakat lokal, maka itu adalah ketimpangan yang nyata,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah pusat telah menyatakan bahwa eksplorasi migas merupakan bagian dari upaya strategis nasional dalam menjaga pasokan energi domestik dan mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di daerah-daerah terpencil yang memiliki potensi sumber daya alam.

Proyek eksplorasi tersebut juga diproyeksikan mampu membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan daerah.

Namun demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa setiap kebijakan eksplorasi harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian.

Baca Juga:  Krisis Lingkungan Banyuwangi: Aktivis Desak Pemerintah Tindak Tegas PT BSI dan Pejabat Terlibat

Pemerintah dituntut memastikan bahwa seluruh proses berjalan sesuai standar kelestarian lingkungan dan mengutamakan dialog terbuka dengan masyarakat terdampak.

Seruan untuk meninjau ulang rencana eksplorasi itu pun semakin nyaring terdengar.

Badko HMI Jatim bahkan berkomitmen untuk mengkonsolidasikan gerakan mahasiswa di Jawa Timur dalam mengawal isu tersebut.

“Pulau Kangean bukan ladang investasi sesaat. Ia adalah wilayah hidup masyarakat yang harus dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang,” tutup Yusfan.

Polemik tersebut memperlihatkan betapa pentingnya keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan perlindungan ruang hidup masyarakat lokal.

Apakah suara-suara dari pesisir akan didengar, ataukah proyek ini akan tetap bergulir demi mengejar target eksplorasi nasional? Waktu dan kebijakan publik akan menjadi penentunya. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hanya Bawa Rp100 Ribu, Ibu di Sumenep Melahirkan dengan Bantuan UHC
Semarak Kemerdekaan RI dan HUT ke-25, Demokrat Sumenep Gelar Lomba Rakyat
Jalan Batu Guluk–Pandeman Kini Mulus, Warga Kangean Tak Lagi Susah Melintas
Kapolresta Sumenep Salurkan Bantuan Kemanusiaan Korban Gempa NTT
Kapolresta Banyuwangi Bangun Soliditas Lewat Coffee Morning, Tekankan Peran Pemimpin dan Orang Tua
Aplikasi “Panglima” SMKN Ihya’ Ulumudin Jadi Jembatan Alumni dan Sekolah
Desil DTSEN BPS Probolinggo Jelaskan Tak Ditentukan Satu Indikator
HUT RI ke-81 di Masalembu: Merdeka dalam Seremoni, Terjajah oleh Ketertinggalan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Hanya Bawa Rp100 Ribu, Ibu di Sumenep Melahirkan dengan Bantuan UHC

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:16 WIB

Semarak Kemerdekaan RI dan HUT ke-25, Demokrat Sumenep Gelar Lomba Rakyat

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:20 WIB

Jalan Batu Guluk–Pandeman Kini Mulus, Warga Kangean Tak Lagi Susah Melintas

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:09 WIB

Kapolresta Sumenep Salurkan Bantuan Kemanusiaan Korban Gempa NTT

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:37 WIB

Kapolresta Banyuwangi Bangun Soliditas Lewat Coffee Morning, Tekankan Peran Pemimpin dan Orang Tua

Berita Terbaru

FOTO: Farid Azziyadi, Aktivis pemerhati petani. @by_News9.id

EKONOMI BISNIS

PT Djarum Belum Pastikan Serapan Tembakau Madura

Rabu, 26 Agu 2026 - 09:59 WIB

FOTO: (ilustrasi) Oknum anggota kepolisian berpangkat Brigpol berinisial RS. @by_News9.id

PERISTIWA

Oknum Polisi Polsek Masalembu Diduga Sering Bolos

Selasa, 25 Agu 2026 - 10:20 WIB