Ketika Ketetapan Busana Dijadikan Titah Kekuasaan

- Editorial Team

Jumat, 2 Januari 2026 - 12:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: (animasi) Syarif Anton. @by_News9.id/fb Syaf Anton

FOTO: (animasi) Syarif Anton. @by_News9.id/fb Syaf Anton

OPININEWS9 – Sumenep kembali gaduh. Bukan oleh prestasi, bukan pula oleh terobosan kesejahteraan rakyat, melainkan oleh sehelai busana yang dilegalkan melalui Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2025. Aturan ini memaksa Aparatur Sipil Negara mengenakan Busana Budaya Keraton dan Busana Khas Sumenep setiap hari Kamis. Dalihnya: pelestarian budaya. Namun publik patut bertanya—budaya versi siapa yang sedang dipaksakan?

Di balik kebijakan ini, beredar kabar bahwa konsep, warna, dan karakter busana lahir bukan dari proses ilmiah dan kultural yang terbuka, melainkan dari bisikan seorang figur yang merasa paling senior, paling budayawan, dan paling memahami sejarah Sumenep. Satu orang—atau segelintir orang—mengklaim otoritas penuh atas sejarah dan kebudayaan yang seharusnya menjadi milik kolektif masyarakat Sumenep.

Baca Juga:  Seribu Penari Topeng Dalang Semarakkan Hari Jadi Sumenep ke-756

Inilah ironi terbesar kebijakan kebudayaan hari ini: budaya dibentuk tanpa budayawan, sejarah ditetapkan tanpa sejarawan, estetika diputuskan tanpa desainer, dan identitas dilegalkan tanpa melibatkan para pengrajin yang selama ini menjaga denyut tradisi. Negara—dalam hal ini pemerintah daerah—bertindak seolah-olah kebudayaan adalah properti kekuasaan, bukan ruang hidup yang tumbuh dari partisipasi publik.

Ketika Ketetapan Busana Dijadikan Titah Kekuasaan
FOTO: Konsep, warna, dan karakter busana lahir bukan dari proses ilmiah dan kultural yang terbuka. @by_News9.id/fb_Syaf_Anton

Kecurigaan pun menguat. Apakah Perbup ini murni lahir dari semangat pelestarian, atau sekadar pesanan kepentingan tertentu? Apakah penetapan motif, warna, dan karakter busana memiliki makna simbolik yang sengaja diarahkan untuk mengukuhkan identitas kelompok tertentu di atas identitas masyarakat Sumenep secara keseluruhan? Jika ya, maka ini bukan lagi soal busana, melainkan soal hegemoni simbolik.

Baca Juga:  Dari Kotak Suara ke Meja Pembangunan, Saatnya Bersama Membangun Daerah

Yang lebih mengkhawatirkan, kebijakan ini dijalankan tanpa ruang dialog. Tidak ada forum terbuka, tidak ada perdebatan publik, tidak ada uji akademik. Padahal Sumenep bukan daerah tanpa sejarah. Ia memiliki peradaban panjang, kerajaan besar, dan tradisi kultural yang berlapis-lapis. Menetapkan satu model busana sebagai “resmi” tanpa konsensus sama saja dengan mereduksi kekayaan sejarah menjadi simbol tunggal yang dikendalikan penguasa.

Lalu, apakah ini potret Sumenep hari ini? Daerah yang kembali ke pola feodalisme baru—di mana keputusan lahir seperti titah raja, dan aparatur negara diwajibkan patuh tanpa hak bertanya? Apakah ASN kini tidak lagi diposisikan sebagai pelayan publik, melainkan sebagai etalase visual kekuasaan?

Baca Juga:  Tradisi Lintas Zaman: 64 Pasang Sapi Adu Cepat di Kerapan Sapi Piala Bupati Sumenep 2025

Jika kebudayaan dipaksakan lewat peraturan, tanpa partisipasi dan tanpa kesadaran, maka yang lahir bukan pelestarian, melainkan penyeragaman identitas. Budaya yang hidup akan berubah menjadi kostum seremonial—kosong makna, penuh kepentingan.

Sumenep tidak kekurangan budaya. Yang tampaknya mulai langka justru kebijaksanaan dalam mengelola kekuasaan. Karena sejarah mencatat, penguasa yang menggunakan simbol budaya untuk mengukuhkan kuasa, pada akhirnya akan diingat bukan sebagai pelestari tradisi, melainkan sebagai mereka yang mereduksi budaya menjadi alat legitimasi politik.

Busana bisa diwajibkan. Tetapi martabat sejarah dan kebudayaan tidak pernah bisa dipaksa tunduk oleh peraturan. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MEC 2026 Siap Digelar, Puluhan Peserta Bawa Kreasi Keraton Sumenep
Festival Tong Tong se-Madura 2026 Siap Guncang Jalanan Kota Sumenep
PSHT Pusat Madiun Peringati HUT ke-104, Teguhkan Nilai Persaudaraan dan Pengabdian kepada Masyarakat
Spektakuler Pemuda Tambelangan Bersatu Sukses Gelar TFC ke 6 
Jadi Panggung Kolaborasi Budaya Jawa Timur, 12 Daerah Tampilkan Kesenian Unggulan di MCF 2026
Gemerlap Petik Laut Rawatan Samudra 2026, Tradisi Leluhur Menjaga Laut Masalembu
Doa Sang Proklamator 2026, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Merawat Nasionalisme
Idul Adha Bukan Sekadar Penyembelihan, Melainkan Simbol Keikhlasan, Kemanusiaan, dan Kepedulian Sosial
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 14:53 WIB

MEC 2026 Siap Digelar, Puluhan Peserta Bawa Kreasi Keraton Sumenep

Sabtu, 5 September 2026 - 15:11 WIB

Festival Tong Tong se-Madura 2026 Siap Guncang Jalanan Kota Sumenep

Rabu, 2 September 2026 - 20:41 WIB

PSHT Pusat Madiun Peringati HUT ke-104, Teguhkan Nilai Persaudaraan dan Pengabdian kepada Masyarakat

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:11 WIB

Spektakuler Pemuda Tambelangan Bersatu Sukses Gelar TFC ke 6 

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:15 WIB

Jadi Panggung Kolaborasi Budaya Jawa Timur, 12 Daerah Tampilkan Kesenian Unggulan di MCF 2026

Berita Terbaru

FOTO: Sekda Sumenep Agus Dwi Saputra (tengah), bersama Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumenep, Mustangin (kanan), saat mengunjungi salah satu stand perusahaan. @by_News9.id

EKONOMI BISNIS

Job Fair 2026 Sumenep Buka 3.141 Lowongan Kerja

Senin, 28 Sep 2026 - 09:19 WIB

FOTO: Rapat staf di lingkungan Diskominfo Sumenep, @by_News9.id

PEMERINTAHAN

Kadis Kominfo Sumenep Tekankan Disiplin dan Kekompakan

Senin, 28 Sep 2026 - 09:02 WIB

FOTO: Korban saat di evakuasi dari TKP. @by_News9.id

PERISTIWA

Motor Terperosok ke Jurang 7 Meter, Pengendara Meninggal Dunia

Minggu, 27 Sep 2026 - 15:27 WIB

FOTO: Skuad Garuda saat melawan Singapura pada laga Grup A. @by_News9.id

OLAHRAGA

Timnas Indonesia Tundukkan Singapura 2-0

Minggu, 27 Sep 2026 - 15:03 WIB