Rembug Keroncong Nasional 2026 di Semarang, Rajut Komunitas Perkuat Ekosistem Menuju Masa Depan Keroncong Indonesia

- Editorial Team

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Para pegiat, praktisi, akademisi, pengamat, serta tokoh keroncong dari berbagai daerah di Indonesia. @by_News9.id

FOTO: Para pegiat, praktisi, akademisi, pengamat, serta tokoh keroncong dari berbagai daerah di Indonesia. @by_News9.id

SEMARANG, NEWS9 – Gagasan membangun ekosistem keroncong yang lebih solid dan terintegrasi mengemuka dalam Rembug Keroncong Nasional 2026 yang digelar di Gedung Diklat, Jalan Fatmawati, Semarang, Sabtu (3/10/2026).

Mengusung tema “Merajut Komunitas, Menguatkan Ekosistem, Menjaga Masa Depan Keroncong Indonesia”, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi para pegiat, praktisi, akademisi, pengamat, serta tokoh keroncong dari berbagai daerah di Indonesia.

Rembug Keroncong Nasional 2026 berlangsung selama tiga hari, Jumat-Minggu, 2-4 Oktober 2026.

Sejumlah narasumber turut memberikan perspektif dalam forum tersebut, di antaranya Eri Setiawan, pengamat keroncong nasional, Murianto, praktisi hukum, Singgih Sanjaya, dosen ISI Yogyakarta; serta Mustika Andini yang bertindak sebagai moderator.

Forum tersebut juga dihadiri para tokoh dan komunitas keroncong dari berbagai wilayah Indonesia, sehingga pembahasan tidak semata-mata berkutat pada aspek musikal, tetapi juga menyentuh persoalan kelembagaan, keberlanjutan komunitas, regulasi, pendidikan, regenerasi hingga penguatan ekosistem keroncong secara nasional.

Ketua Panitia Penyelenggara, Marco Manardi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang telah hadir dalam Rembug Keroncong Nasional 2026.

“Selamat datang kepada para peserta dan tamu undangan yang telah mengikuti Rembug Keroncong Nasional. Kegiatan ini dilaksanakan mulai Jumat sampai Minggu, tanggal 2 sampai 4 Oktober 2026,” ujar Marco.

Marco juga mengungkapkan rasa syukur atas perjuangan panjang para pegiat keroncong dari tingkat daerah hingga kementerian yang menurutnya menjadi bagian penting dalam penguatan eksistensi musik keroncong di Indonesia.

Baca Juga:  Warisan Leluhur Tak Lekang Zaman: Seblang Olehsari Kembali Hidupkan Spirit Tradisi Using

Ia menilai keberadaan komunitas keroncong yang tersebar di berbagai daerah merupakan potensi besar yang perlu dihimpun dalam sebuah gerakan bersama.

Menurut Marco, salah satu gagasan yang perlu terus didorong adalah terbentuknya “Rumah Besar Keroncong”, sebagai ruang bersama yang dapat mempertemukan berbagai komunitas, organisasi, seniman, akademisi maupun pemerhati keroncong di seluruh Indonesia.

“Bagaimana caranya dari banyaknya komunitas keroncong di Indonesia ini bisa bersatu. Sehingga apa yang menjadi impian kita dapat terwujud, seperti membuat Rumah Besar Keroncong,” ungkapnya.

Rumah Besar tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi simbol organisasi, tetapi mampu menjadi wadah untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, pembinaan, dokumentasi, pendidikan, regenerasi serta akses masyarakat terhadap keroncong.

Baca Juga:  KKKS Mandul 4 Tahun, PMII Gedor DPRD Sumenep

Dengan demikian, keberadaan keroncong diharapkan semakin mudah diakses oleh masyarakat dan memperoleh perhatian yang lebih kuat, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Apresiasi terhadap pelaksanaan Rembug Keroncong Nasional 2026 juga disampaikan Satriawan Nugroho, S.T., salah satu penggerak PAMORI Jawa Timur.

Menurut Satriawan, forum nasional semacam ini memiliki arti penting karena mempertemukan berbagai komunitas dan tokoh keroncong dari lintas daerah dalam satu ruang dialog.

Ia berharap gagasan membangun Rumah Besar Keroncong dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan antarkomunitas.

“Dengan adanya Rembug Keroncong Nasional 2026 dan gagasan membentuk komunitas dalam Rumah Besar Keroncong, kita berharap semuanya bisa bersatu, guyub rukun, sehingga musik keroncong dapat terus berkembang di Indonesia,” ujar Satriawan.

Ia menambahkan, penguatan komunitas harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan keroncong, terutama melalui regenerasi dan perluasan ruang apresiasi bagi generasi muda.

Bagi Satriawan, keroncong bukan sekadar genre musik, melainkan bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia yang perlu dirawat melalui kerja bersama.

“Harapannya keroncong Indonesia semakin berkembang dan bisa go UNESCO,” tegasnya.

Tidak Cukup Sekadar Mempertahankan, Ekosistem Harus Diperkuat

Baca Juga:  Kampoeng Jerami Harumkan Sumenep di Ajang Sutasoma Balai Bahasa Jatim

Rembug Keroncong Nasional 2026 memperlihatkan bahwa tantangan keroncong ke depan tidak hanya menyangkut bagaimana mempertahankan musik tersebut agar tetap dimainkan, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem yang memungkinkan keroncong tumbuh secara berkelanjutan.

Konsolidasi komunitas menjadi salah satu kebutuhan penting. Sebab, keberadaan komunitas yang tersebar di berbagai daerah merupakan kekuatan sosial dan kultural yang apabila terhubung secara baik dapat menjadi fondasi bagi pengembangan keroncong secara nasional.

Di sisi lain, keterlibatan akademisi, praktisi hukum, pengamat, seniman dan pemerintah juga menjadi penting untuk memastikan bahwa pengembangan keroncong memiliki landasan kelembagaan serta arah yang jelas.

Forum di Semarang ini sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif tersebut.

Pada akhirnya, gagasan “Rumah Besar Keroncong Indonesia” akan sangat bergantung pada kemampuan seluruh elemen keroncong untuk membangun kesepahaman, mengesampingkan sekat komunitas, serta menempatkan kepentingan keberlanjutan keroncong sebagai agenda bersama. ***

Facebook Comments Box

Penulis : GN

Editor : Seno CS

Sumber Berita: https://News9.id

Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MEC 2026 Siap Digelar, Puluhan Peserta Bawa Kreasi Keraton Sumenep
Festival Tong Tong se-Madura 2026 Siap Guncang Jalanan Kota Sumenep
PSHT Pusat Madiun Peringati HUT ke-104, Teguhkan Nilai Persaudaraan dan Pengabdian kepada Masyarakat
Spektakuler Pemuda Tambelangan Bersatu Sukses Gelar TFC ke 6 
Jadi Panggung Kolaborasi Budaya Jawa Timur, 12 Daerah Tampilkan Kesenian Unggulan di MCF 2026
Gemerlap Petik Laut Rawatan Samudra 2026, Tradisi Leluhur Menjaga Laut Masalembu
Doa Sang Proklamator 2026, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Merawat Nasionalisme
Idul Adha Bukan Sekadar Penyembelihan, Melainkan Simbol Keikhlasan, Kemanusiaan, dan Kepedulian Sosial
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Rembug Keroncong Nasional 2026 di Semarang, Rajut Komunitas Perkuat Ekosistem Menuju Masa Depan Keroncong Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 - 14:53 WIB

MEC 2026 Siap Digelar, Puluhan Peserta Bawa Kreasi Keraton Sumenep

Sabtu, 5 September 2026 - 15:11 WIB

Festival Tong Tong se-Madura 2026 Siap Guncang Jalanan Kota Sumenep

Rabu, 2 September 2026 - 20:41 WIB

PSHT Pusat Madiun Peringati HUT ke-104, Teguhkan Nilai Persaudaraan dan Pengabdian kepada Masyarakat

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:11 WIB

Spektakuler Pemuda Tambelangan Bersatu Sukses Gelar TFC ke 6 

Berita Terbaru

FOTO: Kapolsek Ambunten bersama anggota Koramil saat mendatangi TKP. @by_News9.id

Headline

Siswa SMAN 1 Ambunten Tenggelam Saat Praktik Renang

Sabtu, 3 Okt 2026 - 10:49 WIB

FOTO: Massa aksi dari Pemuda Peduli Desa (PPD) di depan Mapolresta Sumenep, @by_News9.id

Headline

Aksi di Mapolresta Sumenep, PPD Desak Polisi Tangkap Asmawi

Jumat, 2 Okt 2026 - 17:00 WIB