SUMENEP, News9 – Debat ketiga Pilkada Sumenep malam ini mengusung tema menarik “Harmonisasi Pembangunan Pusat dan Daerah, Penguatan Kearifan Lokal, serta Wawasan Kebangsaan“.
Dalam diskusi tersebut, Cabup 02, Mas Doktor Fauzi, mengangkat isu toleransi dan keberagaman yang telah mengakar selama ratusan tahun di Kabupaten Sumenep.
Sebagai daerah yang kaya akan sejarah, Sumenep telah membuktikan bahwa harmoni antar-umat beragama dan budaya bisa terjaga.
Gereja, Klenteng, dan Masjid berdiri berdekatan selama 265 tahun, simbol nyata bagaimana masyarakat Sumenep hidup dalam keberagaman.
“Sumenep itu inklusif,” ujar Mas Doktor Fauzi, dalam debat pamungkas Pilkada Sumenep 2024 di Uniba Madura, Rabu (20/11/2024).
Mas Doktor Fauzi menegaskan pentingnya kepemimpinan inklusif, sebuah pendekatan yang menghargai dan merangkul semua kelompok.
Dalam pandangannya, seni dan budaya adalah elemen universal yang mampu menyatukan perbedaan.
Oleh karena itu, di bawah kepemimpinannya, potensi seni dan budaya lokal diberi ruang untuk berkembang.
“Kami ingin seni tradisional dan modern sama-sama mendapat tempat. Ini adalah cara kami menjaga warisan nenek moyang sekaligus mendukung kreativitas generasi muda,” jelasnya.
Langkah itu tidak hanya menjadi simbol inklusivitas, tetapi juga upaya konkret untuk membangun identitas lokal yang kuat.
Setiap event besar di Sumenep selalu menghadirkan berbagai bentuk seni dan budaya, mulai dari tradisional seperti topeng dalang hingga pertunjukan modern.
Mas Doktor Fauzi mengajak masyarakat untuk belajar dari para raja Sumenep di masa lalu.
Para pemimpin ini dikenal inklusif, menghargai perbedaan kultur yang ada di tengah masyarakat.
Sikap ini, menurutnya, adalah kunci keberhasilan Sumenep menjadi salah satu kabupaten dengan kekayaan budaya paling lestari di Indonesia.
“Jangan heran kalau Sumenep kaya akan seni dan budaya. Itu hasil dari pemimpin yang inklusif dan mau merangkul semua kelompok,” tegasnya.
Kepemimpinan inklusif bukan sekadar retorika. Ruang kreasi yang terus diberi panggung adalah bukti nyata bahwa keberagaman seni dan budaya memang dihormati.
Dengan pendekatan ini, Mas Doktor Fauzi berharap Sumenep menjadi teladan bagi daerah lain dalam menjaga harmoni keberagaman.
Sebagai masyarakat, kita diajak untuk terus mendukung pemimpin yang mengedepankan persatuan dan penghormatan terhadap keberagaman.
Karena hanya dengan inklusivitas, pembangunan yang harmonis dan berkelanjutan dapat tercapai.
FAHAM? Mari bersama-sama kita wujudkan Sumenep yang inklusif dan membanggakan. ***












