BeritaPariwisata

Air Terjun “Antrukan Pawon” Dunia Tersembunyi di Lumajang Cocok Buat Healing

301
×

Air Terjun “Antrukan Pawon” Dunia Tersembunyi di Lumajang Cocok Buat Healing

Sebarkan artikel ini
FOTO: Air Terjun Antrukan Pawon yang terletak di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, @by_News9.id
FOTO: Air Terjun Antrukan Pawon yang terletak di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, @by_News9.id

LUMAJANG, NEWS9 – Air Terjun “Antrukan Pawon” terletak di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, adalah

mahakarya alam yang terjaga keasliannya.

Air mengalir dari dalam gua batu, membentuk tirai jernih yang turun ke kolam alami di bawahnya.

Fenomena itu bukan sekadar panorama, tapi pengalaman spiritual bagi mereka yang haus akan ketenangan.

Nama “Antrukan Pawon” berasal dari bahasa Jawa “Antrukan” berarti celah atau lorong sempit, sementara “Pawon” berarti dapur.

Secara filosofis, air yang keluar dari gua batu ini seolah menggambarkan uap kehidupan dari dapur ibu bumi memasak kesejukan, menyajikan kedamaian.

Berada di balik lengkung tenang pegunungan Gucialit, suara gemericik air dari celah batu berpadu lembut dengan semilir angin pegunungan.

Tidak seperti air terjun pada umumnya yang terbuka dan deras, Antrukan Pawon justru tersembunyi di balik tebing tinggi yang melingkar seperti pelukan.

Untuk mencapainya, pengunjung harus menyusuri jalan setapak, melewati semak dan batuan lembab yang menjadi saksi bisu kehidupan rimba.

Mengantar pelancong menuju sebuah dunia tersembunyi bernama “Antrukan Pawon”. Namun di ujung perjalanan, keindahan yang ditawarkan sepadan.

Saat matahari menyusup lewat celah atas gua, air terjun memantulkan cahaya seperti kristal, menciptakan suasana magis yang nyaris tak bisa diciptakan oleh teknologi manusia.

Keunikan lainnya, air terjun ini dapat dimasuki dari dalam. Wisatawan bisa menyusuri bagian gua di balik air, merasakan embun alami dan suara gemuruh dari balik tebing.

Ini bukan hanya wisata, tapi petualangan. Beberapa pengunjung menyebut tempat ini sebagai “Miniatur Surga”.

Tak heran jika mereka yang datang, umumnya kembali membawa cerita yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Dulu, medan menuju Antrukan Pawon begitu menantang. Jalan sempit, tanpa penerangan, danbelum ada penanda arah. Namun kini, perlahan tetapi pasti, pemerintah desa melakukan pembenahan.

Jalan mulai diperbaiki, akses dipermudah, dan promosi mulai digaungkan.

Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), bersama Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma (Mas Yudha), bahkan telah mengunjungi langsung lokasi ini sebagai bentuk komitmen pengembangan wisata alternatif.

“Waktu saya masih di Dinas Kehutanan, saya pernah ke sini. Dulu jalannya susah. Sekarang, Alhamdulillah sudah banyak kemajuan”, tutur Bunda Indah dalam kunjungan lapangannya.

Tak sekadar memperbaiki infrastruktur, pemerintah desa dan pemerintah daerah juga mendorong keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan destinasi.

Warga desa dilibatkan sebagai pemandu, penjaga kebersihan, hingga pengelola parkir. Ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.

Upaya ini selaras dengan semangat pemerintahan nasional dalam Asta Cita, khususnya pada poin penguatan reformasi birokrasi, pengembangan pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis lokal.

Antrukan Pawon” pun tak hanya menjual pesona alam, tetapi juga menyimpan nilai edukatifdan budaya.

Di sekitar kawasan, wisatawan bisa belajar tentang tanaman hutan, mitos-mitos lokal, hingga budaya hidup selaras dengan alam.

Bagi Lumajang, Antrukan Pawon adalah wajah baru dari pariwisata yang inklusif. Tidak hanya menarik pelancong, tapi juga menghidupkan ekonomi desa dan menjaga ekosistem.

Salah satu pengunjung asal Malang, Arief Suryawan, mengaku terpukau.

“Saya sudah ke Tumpak Sewu, Bromo, dan Ijen. Tapi Antrukan Pawon ini beda. Lebih alami, lebih tenang, dan cocok buat healing,” ujarnya.

Pemerintah daerah menyadari, tantangan ke depan adalah menjaga agar keaslian tempat ini tidak rusak oleh arus wisata massal.

Oleh karena itu, sistem kuota pengunjung dan edukasi lingkungan mulai dirancang agar wisata tetap lestari.

Pariwisata berbasis alam seperti Antrukan Pawon membutuhkan keseimbangan antara promosi dan konservasi, antara ekonomi dan ekologi. Ini yang kini sedang dibangun di Lumajang.

Dengan visi yang kuat, langkah perlahan namun pasti, serta sinergi antara masyarakat dan pemerintah, Antrukan Pawon tak lagi sekadar “Surga Tersembunyi”, ia tengah disiapkan menjadi salah satu ikon wisata Indonesia Timur.

Jika Tumpak Sewu adalah “Niagara-nya Indonesia”, maka “Antrukan Pawon” adalah senandung rahasia bumi yang menanti untuk ditemukan, didengar, dan dijaga bersama. ***

Tinggalkan Balasan

>