SUMENEP, NEWS9 – Inovasi program BBS Sekolah yang digagas PT BPRS Bhakti Sumekar Perseroda mulai menunjukkan dampak konkret di dunia pendidikan, khususnya dalam memperkuat literasi keuangan pelajar di Kabupaten Sumenep.
Program digital itu dirancang sebagai solusi sistem tabungan berbasis teknologi QRIS bagi pelajar di berbagai jenjang pendidikan, dari SD hingga SMA.
Tujuannya, membangun budaya menabung sejak dini serta menciptakan ekosistem keuangan yang aman, efisien, dan transparan di lingkungan sekolah.
Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar Perseroda, Hairil Fajar, menjelaskan BBS Sekolah merupakan pengembangan dari program lama “Berani Simpel” yang kini ditingkatkan untuk mendukung implementasi Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).
“BBS Sekolah adalah aplikasi digital untuk menghimpun Simpanan Pelajar (Simpel), yang didesain agar setiap siswa memiliki satu rekening pribadi. Ini bentuk kontribusi kami terhadap program KEJAR dari pemerintah,” ujar Hairil, Kamis (24/4/2025), lalu.
Menurutnya, aplikasi tersebut mempermudah sekolah dalam bekerja sama dengan perbankan tanpa campur tangan pihak ketiga yang berisiko, sekaligus memberikan kontrol penuh kepada orang tua terhadap aktivitas keuangan anaknya.
“Aplikasi ini tersedia untuk pelajar SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA. Selain memudahkan transaksi, orang tua juga bisa memantau langsung perkembangan tabungan anak mereka,” jelasnya.
Sebagai bank milik Pemerintah Kabupaten Sumenep yang memiliki jaringan di seluruh kecamatan, Hairil menekankan komitmen BPRS Bhakti Sumekar dalam menjadi pionir layanan keuangan edukatif yang berdampak positif bagi generasi muda.
Salah satu contoh keberhasilan nyata dari implementasi BBS Sekolah terlihat di SDN Juluk 1 Kecamatan Saronggi.
Sekolah tersebut menjadi pelopor dalam penggunaan sistem tersebut dan telah menunjukkan kemajuan signifikan.
“Kami hadir langsung di SDN Juluk 1 dalam rangka peluncuran buku edukasi literasi keuangan. Sekolah ini menjadi yang pertama menerapkan BBS Sekolah dan telah mulai menuai hasil positif. Ini menjadi inspirasi bagi sekolah lain,” tambah Hairil.
Meski begitu, ia tidak menampik adanya tantangan teknis di lapangan, terutama dalam mekanisme penyetoran dan penarikan dana di akhir tahun ajaran.
Namun, lanjut Hairil, ia memastikan pihaknya akan terus melakukan evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan.
“Kami terbuka terhadap masukan. Segala kendala akan menjadi bahan evaluasi demi penyempurnaan layanan ke depan,” pungkasnya. ***













>