SUMENEP, NEWS9 – Rencana konferensi pers pengungkapan temuan 27,83 kilogram barang yang diduga narkotika jenis kokain, mendadak dibatalkan tanpa penjelasan yang memuaskan.
Padahal, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, sudah tiba di lokasi.
Barang bukti berupa puluhan kilogram bungkusan yang diduga kokain bahkan telah dipajang rapi di Aula Sanika Satyawada Polres Sumenep, pada Selasa (14/4/2026).
Banner rilis pun sudah terpasang, seolah tinggal menunggu pernyataan resmi.
Puluhan wartawan yang telah menunggu lebih dari tiga jam pun dibuat heran. Di tengah penantian itu, situasi berubah drastis.
Sejumlah anggota kepolisian tiba-tiba menarik kembali seluruh barang bukti yang sebelumnya dipamerkan.
Bungkusan-bungkusan tersebut langsung dibawa keluar dari aula. Bahkan, banner kegiatan yang sudah terpasang mendadak diganti.
Keputusan mendadak itu memicu tanda tanya besar.
Kapolres Sumenep, AKBP Anang Hardiyanto, berdalih kegiatan tersebut belum masuk tahap rilis resmi.
Meski demikian, fakta bahwa barang bukti sudah dipertontonkan ke publik menjadi sorotan tersendiri.
“Belum rilis resmi. Nanti akan kami sampaikan, tapi saat ini belum ada hasil laboratorium,” ujarnya kepada awak media.
Menurutnya, pembatalan dilakukan untuk menghindari kesimpangsiuran informasi karena hasil uji laboratorium belum keluar.
Polisi mengklaim masih melakukan pendalaman atas temuan bungkusan tersebut yang ditemukan di wilayah kepulauan Sumenep, tepatnya di Gili Genting.
“Kami masih melakukan penyelidikan dan pendalaman. Untuk memastikan jenis barang tersebut, harus melalui uji lab terlebih dahulu,” katanya.
Namun, pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan baru mengapa barang yang belum teruji secara ilmiah sudah lebih dulu dipajang di depan publik.
Hingga kini, pihak kepolisian belum dapat memastikan secara detail isi dari bungkusan tersebut. Semua masih menunggu hasil uji laboratorium.
Saat ditanya terkait agenda kunjungan Kapolda Jawa Timur ke Sumenep, Kapolres memilih irit bicara. “Agenda kerja,” ucapnya singkat.
Sikap tertutup itu semakin menambah spekulasi. Masyarakat pun bertanya-tanya, apakah ini sekadar prosedur kehati-hatian, atau ada sesuatu yang sengaja ditahan.
Yang jelas, temuan tersebut meninggalkan kesan kuat, transparansi masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam penanganan kasus besar di daerah. ***












