BeritaKesehatanPeristiwa

HIV di Sumenep: Bom Waktu Kesehatan yang Dibiarkan Berdetak

286
×

HIV di Sumenep: Bom Waktu Kesehatan yang Dibiarkan Berdetak

Sebarkan artikel ini
HIV di Sumenep: Bom Waktu Kesehatan yang Dibiarkan Berdetak
FOTO: (ilustrasi) Data HIV Sumenep Jadi Tamparan Keras Negara. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Fenomena HIV di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kian mengkhawatirkan.

Angka yang muncul ke permukaan diduga hanya puncak dari masalah besar yang tersembunyi di tengah masyarakat.

Ibarat gunung es, yang terlihat hanyalah sebagian kecil, sementara ancaman sesungguhnya jauh lebih luas dan dalam.

Kepala Puskesmas Legung, Adi Mulyono, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus HIV di Sumenep tidak bisa dipandang sebagai angka statistik biasa.

Menurutnya, banyak penderita yang belum terdeteksi dan tidak mengetahui status kesehatannya, sehingga berpotensi menjadi mata rantai penularan baru.

“HIV yang terdata dan masih dalam proses pengobatan saat ini sebanyak 16 orang. Sementara yang meninggal dunia sudah mencapai 10 orang,” ujar Adi, Selasa (20/1/2026).

Angka tersebut menjadi alarm keras. Bukan hanya soal kematian, tetapi juga tentang kegagalan sistem deteksi dini dan rendahnya kesadaran masyarakat.

Individu yang tidak mengetahui status HIV-nya dapat secara tidak sengaja menularkan virus kepada orang lain, sementara kondisi kesehatannya sendiri terus memburuk tanpa penanganan yang memadai.

HIV menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh tertentu seperti darah, air mani, cairan pra-mani, cairan vagina, serta air susu ibu dari orang yang terinfeksi.

Penularan paling dominan terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom baik vaginal, anal, maupun oral penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Adi menegaskan, pencegahan tidak cukup hanya dengan imbauan normatif tapi diperlukan keberanian untuk berbicara jujur dan terbuka kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Kami terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya kaum muda, agar tidak melakukan seks bebas dan tidak mencoba perilaku berisiko yang sangat berbahaya,” tegasnya.

Selain itu, persoalan HIV di Sumenep tidak bisa diselesaikan dengan slogan semata.

Dikatakan Adi, substansi utama yang kerap dihindari adalah pendidikan seks yang komprehensif bagi remaja.

“Tanpa pemahaman yang benar tentang risiko hubungan seksual bebas, upaya pencegahan hanya akan menjadi formalitas tahunan tanpa dampak nyata. Jika dibiarkan, HIV bukan sekadar isu kesehatan, melainkan bom waktu sosial,” tandasnya. ***

Tinggalkan Balasan

>