BeritaHukrim

Masalembu Menjerit, Kapolsek Diduga Terima Setoran dari Bandar Narkoba

1329
×

Masalembu Menjerit, Kapolsek Diduga Terima Setoran dari Bandar Narkoba

Sebarkan artikel ini
FOTO: (ilustrasi) Sejak AKP Asnan menjabat Kapolsek Masalembu bandar semakin liar seakan-akan ada yang melindungi. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Gaung perang terhadap narkoba yang kerap didengungkan aparat penegak hukum kini dipertanyakan warga Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Di lapangan, peredaran barang haram itu justru disebut semakin menggila dan terang-terangan.

Ironisnya, saat transaksi diduga berlangsung di berbagai titik, yang muncul ke publik justru agenda sosialisasi.

Warga menilai langkah itu tidak sebanding dengan kondisi riil di lapangan yang membutuhkan tindakan tegas dan konkret terhadap para bandar.

“Perangi narkoba, berantas narkoba itu hanya slogan. Sejak dia menjabat Kapolsek Masalembu, bandar semakin liar. Seakan-akan ada yang melindungi. Kami menduga Kapolsek ini terima setoran dari bandar,” tegas seorang tokoh agama yang enggan disebutkan namanya, Minggu (22/2).

Ia menyebut sedikitnya ada empat nama yang santer disebut warga sebagai bandar, masing-masing berinisial H, A, P, dan S.

Namun hingga kini, menurutnya, belum terlihat langkah penindakan yang nyata.

“Nama-nama itu bukan rahasia umum. Bukan Kapolsek tidak tahu. Tapi hukum seperti diikat, mata ditutup, mulut dibungkam. Itu yang dirasakan masyarakat hari ini,” ungkapnya tajam.

Sorotan publik semakin keras ketika muncul informasi bahwa salah satu titik transaksi diduga berjarak sekitar 60 meter dari kantor Polsek Masalembu.

Warga bahkan mengaku mulai memasang CCTV secara mandiri untuk memantau aktivitas mencurigakan di sekitar lokasi tersebut.

Pertanyaan publik pun mengarah pada komitmen aparat di tingkat atas.

Pergantian Kapolres diharapkan bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan momentum pembuktian.

“Sekarang ada Kapolres baru. Pertanyaannya sederhana, seberapa berani dan jujur membasmi bandar narkoba di Pulau Masalembu,” tegasnya.

Ia memperingatkan, jika empat nama yang disebut warga tetap bebas beroperasi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar citra institusi, melainkan masa depan generasi muda.

“Kalau bandar masih dibiarkan, kita hanya menunggu kehancuran moral. Yang untung cuma segelintir kelompok yang punya hubungan dengan jaringan itu,” tandasnya.

Hingga kini, belum ada tindakan tegas dan keterangan resmi dari pihak Polsek Masalembu maupun Polres Sumenep terkait peredaran serta tudingan tersebut. ***

Tinggalkan Balasan