SAMPANG, NEWS9 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Gunung Sekar 1, Kecamatan/Kabupaten Sampang, Madura, jadi perbincangan hangat bukan karena makanannya disajikan di sekolah, melainkan karena dibagikan dalam bentuk bingkisan, Senin (23/2).
Isi paket yang beredar di grup WhatsApp cukup beragam: satu butir telur, sepotong roti kecil, dua kotak susu 125 ml, enam butir kurma, satu cup kecil jelly, satu buah pir, dan satu potong paha ayam ungkep.
Kemasan seperti itu langsung menuai kritik. Sejumlah wali murid dan warganet menyebutnya mirip “berkat molodan” bingkisan makanan yang biasa dibagikan saat acara keagamaan, bukan untuk konsumsi harian di sekolah.
Sumber paket makanan ini belum diketahui pasti. Dari 20 dapur yang beroperasi di Kecamatan Sampang, belum jelas dapur mana yang menyuplai sekolah tersebut.
Polemik utama bukan hanya soal menu, tapi juga cara distribusinya. Belum ada kejelasan apakah paket itu untuk sekali makan atau untuk beberapa hari ke depan.
Padahal, merujuk Surat Edaran Badan Gizi Nasional Nomor 3 Tahun 2026, distribusi paket makanan (bundling) selama Ramadan diperbolehkan maksimal untuk kebutuhan tiga hari.
Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan soal keamanan pangan, terutama untuk lauk basah seperti ayam ungkep yang mudah basi.
Seorang wali murid yang tak mau disebut namanya mengaku kaget. Ia meminta agar pemerintah dan sekolah lebih transparan.
“Kalau memang untuk tiga hari, harus ada penjelasan resmi. Anak-anak butuh makan bergizi setiap hari. Jangan sampai niat baik jadi simpang siur. Apalagi soal kualitas makanan, bagaimana kalau ayamnya basi?” ujarnya kepada News9.id.
Ia menegaskan pentingnya kejelasan standar porsi dan jaminan mutu gizi agar tidak timbul kesalahpahaman di masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah dan dapur penyedia belum memberikan tanggapan resmi. Program yang seharusnya menjamin asupan gizi harian siswa justru kini dihadapkan pada persoalan teknis distribusi. ***













>