BeritaPeristiwa

Panitia Duta Kampus Uniba Bantah Pungli, Bongkar Fakta di Balik Kebijakan Denda yang Mendadak Dihapus

135
×

Panitia Duta Kampus Uniba Bantah Pungli, Bongkar Fakta di Balik Kebijakan Denda yang Mendadak Dihapus

Sebarkan artikel ini
Panitia Duta Kampus Uniba Bantah Pungli, Bongkar Fakta di Balik Kebijakan Denda yang Mendadak Dihapus
FOTO: (Istimewa) Ketua panitia, Aura Intan Wulan Dari, @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Yang semula digadang-gadang sebagai panggung prestisius mahasiswa, Pemilihan Duta Kampus Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura, kini menjelma menjadi drama kampus paling panas tahun ini.

Polemik yang awalnya berputar pada isu denda dan dugaan pungutan liar kini bereskalasi ke babak baru yang jauh lebih mencengangkan pembekuan sepihak oleh senat kampus.

Ketua panitia, Aura Intan Wulan Dari, akhirnya memecah keheningan dengan suara bergetar menahan kecewa.

Dia menepis keras segala tudingan pungutan liar yang belakangan menghantam panitia.

“Kami tidak pernah memaksa mahasiswa mengeluarkan uang. Tidak satu rupiah pun! Titik,” tegasnya.

Aura menjelaskan bahwa aturan denda hanyalah mekanisme kedisiplinan agar setiap angkatan mengirim delegasi.

Bukan untuk mencari keuntungan, apalagi mengeruk uang mahasiswa.

Ia juga menegaskan aturan tersebut sudah mendapat persetujuan langsung dari pihak rektorat.

“Kami tidak cari uang. Fokus kami hanya pendelegasian! Itu saja,” ujarnya lantang.

Panitia, lanjut Aura, telah bekerja siang dan malam.

Sekitar 30 sponsor berhasil digandeng demi menyuguhkan panggung megah dan profesional untuk mengharumkan nama Uniba.

Sosialisasi aturan denda pun telah dilakukan kepada seluruh ketua tingkat. Tidak ada penolakan. Semua berjalan mulus.

Namun badai pertama datang ketika video rektor berisi larangan segala bentuk pungutan beredar luas.

Tanpa pikir panjang, panitia langsung mencabut aturan denda.

“Begitu ada instruksi baru, langsung kami hapus. Tidak ada uang yang kami tarik. Nol!” tekan Aura.

Ketika polemik pertama mulai mereda, badai kedua datang lebih besar dan menggulung semuanya.

Seleksi tahap pertama telah tuntas. Peserta bersiap menuju babak berikutnya. Namun tiba-tiba, sebuah Surat Keputusan (SK) bertanggal 19 November 2025 muncul tanpa aba-aba.

SK yang ditandatangani Ketua Senat Uniba Madura, Budi Siswanto, itu menghentikan seluruh rangkaian kegiatan Pemilihan Duta Kampus.

Tanpa alasan. Tanpa dialog. Tanpa penjelasan. Hanya keheningan yang terasa memekakkan.

Kabar itu membuat kampus seketika gempar. Spekulasi liar pun meledak di kalangan mahasiswa sehingga bisik-bisik di lapangan makin keras terdengar.

Ada dugaan kuat bahwa salah satu peserta yang disebut dekat dengan lingkaran elite kampus justru gugur pada seleksi awal.

Namanya sebelumnya dijagokan akan melenggang mulus. Dan sejak itu, tarik-ulur kepentingan diduga menguat.

Ketika kepentingan gagal diamankan, acara pun dikorbankan.

Mahasiswa terpaku. Panitia terpukul. Peserta kehilangan panggung yang telah mereka perjuangkan berbulan-bulan.

Kini satu pertanyaan menggantung di udara, membentuk awan besar kecurigaan.

Apakah ada tangan tak terlihat yang ingin menentukan siapa yang pantas menjadi wajah kampus?

Keputusan sepihak tersebut dinilai sebagai tamparan keras terhadap idealisme mahasiswa yang ingin menyelenggarakan ajang ini secara adil, transparan, dan profesional.

Aura, mewakili seluruh panitia, mengaku lelah disudutkan tanpa alasan jelas.

“Kami sudah lelah. Kami hanya ingin acara ini berjalan jujur dan profesional. Jangan matikan mimpi kami,” ucapnya lirih, namun tetap tegar, Sabtu (22/11/2025). ***

Tinggalkan Balasan

>