BeritaOlahraga

Pembinaan Atlet Sumenep Dinilai Amburadul, Rektor UPI: Jangan Hanya Jago Wacana

136
×

Pembinaan Atlet Sumenep Dinilai Amburadul, Rektor UPI: Jangan Hanya Jago Wacana

Sebarkan artikel ini
Pembinaan Atlet Sumenep Dinilai Amburadul, Rektor UPI: Jangan Hanya Jago Wacana
FOTO: Forum Group Discussion (FGD) DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Sumenep. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Sumenep Menuju Porprov 2027” yang digelar DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Sumenep berubah menjadi ruang kritik tajam terhadap kondisi olahraga di daerah.

Rektor UPI Sumenep, Asmoni, menyampaikan evaluasi pedas terhadap sistem pembinaan atlet yang dinilainya jauh dari standar ideal.

Dalam forum tersebut, Asmoni menegaskan bahwa strategi pemerintah daerah untuk menjemput prestasi pada Porprov 2027 hanya akan menjadi jargon kosong apabila fondasi pembinaan tidak segera dibenahi.

“Tidak ada strategi yang akan berhasil kalau fondasinya tidak diperbaiki. Kita tidak bisa terus bergantung pada pola lama,” tegas Asmoni, Selasa (19/112025).

Menurutnya, pembinaan atlet di Sumenep selama ini cenderung musiman dan baru digencarkan menjelang kejuaraan. Pola seperti itu, katanya, tidak mungkin menghasilkan prestasi berkelanjutan.

“Pembinaan ini jangan hanya muncul saat menjelang event. Latihan harus kontinu sejak sekarang. Menjelang pertandingan tinggal pematangan, bukan baru memulai,” kritiknya.

Asmoni juga mengingatkan kembali kasus hilangnya atlet terbaik Sumenep ke kabupaten lain pada Porprov sebelumnya.

Baginya, kehilangan atlet binaan sendiri merupakan tamparan serius bagi dunia olahraga Sumenep.

“Jangan sampai atlet yang sudah kita bina bertahun-tahun direbut daerah lain. Itu kerusakan sistem pembinaan,” tegasnya.

Meski mengakui minimnya anggaran, Asmoni menilai hal itu tidak boleh menjadi dalih untuk stagnasi pembibitan atlet.

“Kita sering terbentur anggaran, betul. Tapi pembinaan harus tetap berjalan. Kalau tidak, prestasi hanya jadi wacana. Semua pihak harus terlibat,” ujarnya.

Ia menyoroti masih banyak atlet yang hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa dibekali kecerdasan taktis, pemahaman nutrisi, manajemen pola tidur, serta kemampuan menganalisis performa diri.

“Atlet jangan hanya mengandalkan otot. Mereka harus terbiasa membaca data, memahami nutrisi dan limit tubuhnya. Itu bagian dari profesionalisme,” katanya.

Selain faktor fisik, aspek mental juga menjadi titik lemah para atlet Sumenep. Banyak atlet tampil kuat di awal pertandingan namun ambruk pada babak selanjutnya.

“Nervous, takut, kurang percaya diri itu yang membuat atlet sering drop. Mental harus dibangun sama kuatnya dengan fisik,” tegasnya.

Asmoni menutup paparannya dengan menegaskan bahwa Sumenep tidak boleh lagi hanya “bersiap”, melainkan harus bergerak dengan langkah konkret berbasis kajian.

“Semua ini logis dan berbasis kajian. Tinggal bagaimana pihak yang berwenang bergerak nyata. Jangan hanya siap-siap tanpa tindakan,” pungkasnya.

Menurutnya, kesuksesan Sumenep di Porprov 2027 sangat bergantung pada keberanian seluruh pemangku kebijakan untuk menindaklanjuti temuan dan rekomendasi yang telah dipetakan dalam forum tersebut. ***

Tinggalkan Balasan

>