SUMENEP, NEWS9 – Kepulauan Masalembu disebut bisa benar-benar bersih dari narkoba jika empat orang bandar yang selama ini beroperasi terang-terangan ditangkap.
Masalahnya, nama-nama itu sudah lama beredar di tengah masyarakat dan bahkan sudah dikantongi oleh Polres Sumenep, sementara aparat penegak hukum justru tak kunjung bertindak.
“Bandarnya itu inisial H, S, A, dan P. Semuanya warga Masalembu. Nama-nama ini bukan rahasia lagi di masyarakat. Yang aneh, justru penegak hukum seperti tak pernah berani menyentuh,” tegas RS seorang tokoh Masalembu kepada News9.id, Kamis (5/2).
Di tengah kondisi tersebut, slogan “Mari Berantas Narkoba Karena Menghancurkan Bangsa” terdengar hambar dan kehilangan makna.
Bagi warga Masalembu, slogan itu justru terasa berbanding terbalik dengan realitas di lapangan.
“Yang terjadi bukan pemberantasan bandar, tapi seolah melindungi bandar lalu sibuk mengejar pengguna. Kalau melihat fakta di Masalembu, slogan itu tidak jujur,” sindirnya.
Sorotan tajam mengarah pada Kapolsek Masalembu beserta jajarannya yang telah lama bertugas sebagai penanggung jawab keamanan, pelayanan, dan pengayoman masyarakat.
Warga menilai, seluruh fungsi tersebut seakan lumpuh ketika berhadapan dengan persoalan narkoba.
“Pulau kecil ini dibiarkan tidak aman. Berkali-kali masyarakat mengadu soal narkoba yang makin merajalela, tapi laporan itu diabaikan. Pengayoman dari Kapolsek Masalembu itu nihil,” ungkapnya.
Ironisnya, saat masyarakat diliputi kecemasan akan masa depan anak-anak mereka akibat peredaran narkoba, Kapolsek Masalembu justru dinilai absen dari persoalan paling krusial tersebut.
“Anggota sebenarnya ingin bergerak. Tapi tidak pernah ada perintah khusus dan serius. Yang ada justru dalih dan pengelakan, bahkan mengatakan narkoba di Masalembu sudah tidak ada. Itu tidak logis,” lanjutnya.
Menurut warga, klaim nihil narkoba sangat bertolak belakang dengan kegelisahan sosial yang terus membesar.
“Kalau narkoba sudah tidak ada, kenapa orang tua takut anaknya jadi korban. Kenapa warga resah. Jawabannya jelas, narkoba masih ada karena bandarnya masih bebas,” tegasnya.
Sementara itu, Masalembu bukan hancur karena minim pembangunan. Pulau tersebut rusak perlahan karena peredaran narkoba yang dibiarkan, dengan dugaan kuat adanya unsur pembiaran dari aparat setempat.
“Masalembu tidak butuh slogan. Masalembu butuh keberanian,” pungkas RS. ***












