OPININEWS9 – “Gak banyak komen komen (seperti sombong atau anti sosial) tapi pasti beres semua tugasnya”, atau “sering komen positif, pintar, komunikasinya menarik tapi kerjaanya belum tentu menghasilkan”.
Anda mau mana atau yang seperti yang mana ??
Kawan, mengelola berbagai tipe kepribadian adalah tantangan utama yang sangat menarik.
Kali ini saya ajak anda ketemu 2 karakter yang sering ditemui adalah individu yang berorientasi pada hasil (ekstrovert dalam tindakan, bukan kata-kata) dan lainnya adalah individu yang berorientasi pada wacana (ekstrovert dalam komunikasi, namun minim hasil nyata).
Memahami dinamika psikologis di balik kedua tipe ini sangat penting dan menarik, khususnya untuk pemilihan, penempatan sampai kinerja yang efektif. Ini sedikit uraian saya.
Mari kita temui Si “Diam“.
Dia tidak banyak bicara namun pekerjaannya berhasil, sering kali menunjukkan ciri-ciri kepribadian introvert atau ambivert yang berfokus pada tugas (task-oriented). Dari sisi psikologis, mereka cenderung memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi dan memproses informasi secara mendalam (deep processing).
HRD melihat tipe ini sebagai aset berharga karena output mereka konsisten dan dapat diandalkan.
Tipe ini sengaja atau tidak menerapkan prinsip efisiensi kognitif: energi mental mereka tidak dihabiskan untuk sosialisasi atau presentasi ide yang berlebihan, melainkan disalurkan langsung ke penyelesaian masalah dan eksekusi. Mereka didorong oleh motivasi intrinsik dan kepuasan pribadi dalam menyelesaikan pekerjaan secara tuntas.
Kelemahan mereka mungkin terletak pada visibilitas, jadi HRD perlu memastikan bahwa hasil kerja mereka tidak luput dari perhatian manajemen, yang sering kali lebih menghargai presentasi verbal yang baik. ata mereka.
Sekarang kita kenalan dengan Si “Vocalis”.
Dia sering berbicara teori dan ide namun minim hasil, sering menunjukkan ciri-ciri ekstrovert yang sangat butuh validasi eksternal. Secara psikologis, komunikasi baginya adalah cara untuk mengelola kecemasan, menegaskan status sosial, atau sekadar merasa didengar. Dia mungkin pandai dalam brainstorming dan presentasi awal, namun mengalami kesulitan dalam eksekusi (implementation gap).
Dari perspektif HRD, tipe ini sering kali pandai “menjual” potensi diri saat wawancara, namun gagal memenuhi ekspektasi dalam jangka panjang. Dia akan cenderung fokus pada “citra” daripada “substansi“. Masalah utama pada tipe ini adalah potensi inefisiensi waktu dan energi tim, serta risiko penurunan moral rekan kerja yang merasa kontribusi mereka tidak seimbang.
Nah, kalau anda tanya mana yang ideal ?, jawabanya adalah keseimbangan Kinerja dan Komunikasi.
Keduanya memiliki peran potensial. Si “Diam” sangat cocok untuk peran eksekusi, teknis, dan operasional yang membutuhkan fokus mendalam. Si “Vocalis” mungkin bersinar dalam peran yang membutuhkan komunikasi strategis, negosiasi, atau inovasi awal (R&D) asalkan ada mekanisme akuntabilitas yang ketat untuk menerjemahkan teorinya menjadi aksi. ***













>