BeritaBudaya

Warisan Leluhur Tak Lekang Zaman: Seblang Olehsari Kembali Hidupkan Spirit Tradisi Using

272
×

Warisan Leluhur Tak Lekang Zaman: Seblang Olehsari Kembali Hidupkan Spirit Tradisi Using

Sebarkan artikel ini
Warisan Leluhur Tak Lekang Zaman: Seblang Olehsari Kembali Hidupkan Spirit Tradisi Using
FOTO: Pangelaran tradisi adat Seblang Olehsari. @by_News9.id

BANYUWANGI, NEWS9 – Tradisi adat Seblang Olehsari kembali digelar di Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi, pada 23 hingga 29 Maret 2026.

Ritual budaya khas masyarakat Using ini berlangsung setiap hari mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, dengan tetap menjaga pakem serta kesakralan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis, menyampaikan bahwa Seblang bukan sekadar agenda tahunan atau pertunjukan budaya, melainkan ruang spiritual yang menyatukan nilai-nilai leluhur dengan kehidupan masyarakat masa kini.

“Seblang ini adalah warisan yang tidak hanya kami jaga, tetapi juga kami hayati. Di dalamnya terdapat makna mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan para leluhur. Tradisi ini mengajarkan keseimbangan hidup yang menjadi pegangan masyarakat kami,” ungkap sang Kades

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya, Seblang memiliki rangkaian makna yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mulai dari penunjukan penari perempuan yang telah melalui proses spiritual, hingga prosesi tari dalam kondisi trance yang diiringi musik tradisional Using dan doa-doa adat oleh pawang, seluruhnya merupakan simbol dari kekuatan spiritual dan kepercayaan masyarakat.

“Setiap unsur dalam Seblang memiliki filosofi. Penari bukan sekadar tampil, tetapi menjadi medium spiritual. Musik dan doa bukan hanya pengiring, melainkan bagian dari energi yang membangun suasana sakral. Ini bukan tontonan biasa, tetapi tuntunan yang diwariskan leluhur,” tambahnya.

Lebih jauh, Joko menegaskan bahwa Seblang juga diyakini sebagai bentuk ikhtiar kolektif masyarakat dalam menjaga keselamatan desa.

Ritual tersebut dipercaya mampu menjadi sarana tolak bala, pembersihan energi negatif, sekaligus mempererat kebersamaan warga.

“Di tengah perkembangan zaman, kami berupaya menjaga agar Seblang tidak kehilangan jati dirinya. Wisatawan boleh datang dan menyaksikan, tetapi nilai sakralnya harus tetap dijaga. Ini adalah identitas kami sebagai masyarakat Using yang tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Seblang Olehsari sendiri telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, berawal dari upaya masyarakat menghadapi wabah dan musibah.

Hingga kini, tradisi tersebut tetap lestari sebagai simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi. ***

Tinggalkan Balasan

>