BeritaPendidikan

Bupati Fauzi di Festival Literasi 2025: Jangan Biarkan Buku Anak Sumenep Hilang Ditelan Zaman

161
×

Bupati Fauzi di Festival Literasi 2025: Jangan Biarkan Buku Anak Sumenep Hilang Ditelan Zaman

Sebarkan artikel ini
Bupati Fauzi di Festival Literasi 2025: Jangan Biarkan Buku Anak Sumenep Hilang Ditelan Zaman
FOTO: Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi Wongsojudo, saat menghadiri festival litersi 2025. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Festival Literasi 2025 menghadirkan suasana berbeda di Kabupaten Sumenep.

Ribuan masyarakat dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pegiat literasi membanjiri arena untuk berburu buku murah.

Namun, acara ini tidak sekadar bazar, melainkan momentum penting untuk menyerukan perlindungan karya lokal.

Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa setiap karya cetak maupun digital harus memiliki perlindungan dan wadah yang jelas agar tidak punah seiring pergantian teknologi.

“Buku bukan cuma komoditas ekonomi atau hiburan sesaat. Buku adalah arsip pengetahuan, catatan budaya, dan identitas daerah. Kalau tidak kita jaga, ia bisa lenyap bersama pergantian teknologi,” tegasnya di hadapan peserta festival.

Fauzi menilai Sumenep harus memiliki strategi konkret agar karya-karya lokal tetap bisa ditemukan meski seratus tahun mendatang.

Ia menekankan pentingnya repositori, kebijakan deposit, metadata, hingga perlindungan hukum yang kuat.

“Dispusip, penerbit lokal, hingga komunitas literasi harus bersinergi menjaga warisan pengetahuan. Salah satunya dengan mendorong penulis dan penerbit mendaftarkan ISBN serta menyerahkan salinan digital melalui layanan e-Deposit Perpusnas,” jelasnya.

Bahkan, Bupati mengingatkan standar penyimpanan digital yang harus diperhatikan penggunaan format PDF/A, penyimpanan file sumber asli, serta replikasi data minimal di tiga lokasi berbeda on-site, off-site, dan cloud.

“Kalau kita ingin buku tetap ada 100 tahun ke depan, kita wajib punya strategi. Jangan sampai karya anak Sumenep hilang hanya karena tidak ada perlindungan,” ujarnya.

Lebih jauh, Fauzi melihat Festival Literasi 2025 sebagai momentum transformatif.

Bazar buku murah bukan hanya ruang jual beli, tapi juga dapat menjadi “pabrik pengumpulan karya lokal” yang berfungsi melestarikan warisan pengetahuan.

“Setiap buku yang terjual, sekaligus punya kesempatan untuk kita ‘selamatkan’ bagi generasi mendatang,” terangnya.

Ia pun berharap Dispusip membuka layanan pendaftaran ISBN, pemindaian karya, hingga unggah repositori langsung di arena festival.

Dengan begitu, gairah membaca bisa beriringan dengan misi menjaga literasi jangka panjang.

Festival Literasi 2025 yang mengusung tema “Merawat Tradisi, Menggali Inspirasi Lewat Tradisi” ini bukan hanya memantik minat baca, tapi juga menyulut kesadaran kolektif tentang pentingnya perlindungan budaya literasi di era digital.

“Pelestarian budaya tidak boleh pasif. Ia butuh kebijakan, infrastruktur, pendanaan, dan kerja sama banyak pihak. Kalau semua bergerak, buku-buku karya kita akan tetap hidup bahkan 100 tahun lagi,” pungkas Fauzi. ***

Tinggalkan Balasan

>