BeritaBudayaDaerah

Seribu Penari Topeng Dalang Semarakkan Hari Jadi Sumenep ke-756

265
×

Seribu Penari Topeng Dalang Semarakkan Hari Jadi Sumenep ke-756

Sebarkan artikel ini
Seribu Penari Topeng Dalang Semarakkan Hari Jadi Sumenep ke-756
FOTO: Seribu Penari Topeng Dalang menari hidupkan sejarah Arya Wiraraja. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Ribuan warga tumpah ruah di jalan utama Kota Sumenep, Jumat (25/10/2025) malam.

Kota di ujung timur Pulau Madura itu berubah menjadi lautan manusia saat prosesi puncak Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep digelar secara megah.

Sorotan utama perayaan kali ini adalah pertunjukan Tari Topeng Dalang kolosal yang melibatkan seribu penari sebuah suguhan spektakuler yang memadukan gerak, warna, dan irama khas Madura.

Perayaan itu digelar untuk memperingati momen bersejarah pengangkatan Arya Wiraraja sebagai Adipati pertama Sumenep pada 31 Oktober 1269, yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal resmi hari jadi kabupaten.

Dalam sambutannya, Bupati Sumenep menegaskan pentingnya acara tersebut sebagai simbol penghormatan terhadap budaya dan sejarah.

“Pertunjukan malam ini adalah cara kita mengenang akar, menghargai budaya, dan menunjukkan kepada generasi muda bahwa Sumenep bukan hanya cerita masa lalu, tapi kekayaan yang terus hidup,” ujarnya.

Momentum itu juga dijadikan ajang untuk memperkuat identitas lokal serta mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya yang diharapkan dapat mengangkat nama Sumenep ke kancah nasional hingga internasional.

Topeng Dalang merupakan seni pertunjukan klasik khas Sumenep yang memadukan unsur tari, musik gamelan, pedalangan, dan kerajinan topeng.

Biasanya, pertunjukan itu mengisahkan lakon epik seperti Ramayana atau Mahabharata, dengan dalang sebagai narator dan para penari bertopeng sebagai pemeran.

Ciri khas topengnya adalah ukuran kecil dengan ukiran sederhana yang tidak menutup dagu, membuat ekspresi penari tampak lebih hidup.

Di Sumenep, dikenal dua gaya utama Topeng Dalang yaitu Versi Slopeng, dengan warna topeng lebih tegas dan gerak dinamis, serta Versi Kalianget, yang cenderung lembut dengan detail gerakan simbolik.

Dahulu, seni itu tak hanya sebagai hiburan rakyat, namun juga bagian dari ritual adat dan tolak bala, menunjukkan peran pentingnya dalam kehidupan sosial masyarakat Madura.

Puncak perayaan malam itu menjadi bukti nyata antusiasme warga terhadap pelestarian budaya lokal.

Seribu penari tampil memukau dengan kostum penuh warna, gerakan selaras, serta denting ghungseng (giring-giring) yang berpadu dengan alunan gamelan khas Madura.

Kirab budaya turut digelar, menampilkan perjalanan sejarah Sumenep dari masa Arya Wiraraja hingga era modern.

Masyarakat dari berbagai kecamatan ikut serta dalam arak-arakan tersebut, membawa simbol-simbol adat dan hasil bumi khas daerahnya.

Suasana pun menjadi lautan warna dan suara dari gemerincing ghungseng, pantulan cahaya topeng, hingga tepuk tangan ribuan penonton yang memadati area panggung utama.

Peringatan hari jadi ke-756 Sumenep bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan refleksi atas jati diri daerah yang kaya akan budaya.

Peringatan hari jadi dengan elemen budaya kuat seperti itu mengandung beberapa makna antara lain:

  • Kebangkitan budaya lokal: Menegaskan bahwa tradisi seperti Topeng Dalang masih hidup dan berkembang.
  • Pendidikan generasi muda: Melibatkan ribuan pelajar dan komunitas seni agar warisan leluhur tidak punah.
  • Identitas daerah: Sumenep meneguhkan diri sebagai “Kota Keris” dan “Solonya Madura”, pusat kebudayaan dengan karakter kuat.
  • Daya tarik wisata: Agenda budaya kolosal ini menjadi magnet wisata baru yang dapat mendongkrak ekonomi kreatif dan UMKM lokal.

Dengan semangat pelestarian yang terus menyala, Sumenep tidak hanya merayakan masa lalunyatetapi juga menari menuju masa depan yang penuh kebanggaan. ***

Tinggalkan Balasan

>