LUMAJANG, NEWS9 – Menyongsong peringatan Hari Buruh Nasional yang jatuh pada 1 Mei 2026, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Jakarta bersama koalisi lintas organisasi menggelar diskusi publik bertajuk “NGOBAR” (Ngopi dan Ngobrol Bareng).
Kegiatan yang dilaksanakan di Warkem Toga, Lumajang ini menyoroti urgensi reforma agraria bagi kesejahteraan kaum buruh.
Diskusi ini menghadirkan analisis mendalam mengenai keterkaitan antara hak atas tanah dan perlindungan hukum bagi pekerja di Jawa Timur.
Acara tersebut mengusung tema besar “Buruh dan Reforma Agraria dalam Pandangan Hukum dan Gerakan, yang Berjuang Pantas Jadi Pemenang“.
Fokus utamanya adalah membedah bagaimana kebijakan pertanahan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi para buruh, baik di sektor formal maupun informal.
Koordinator acara, Junaedi, menekankan bahwa perjuangan buruh tidak bisa dilepaskan dari isu agraria.
Dalam sela-sela diskusi, ia menyampaikan pentingnya kesadaran hukum bagi para aktivis gerakan.
“Kita berkumpul hari ini untuk mempertegas bahwa buruh dan reforma agraria adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Perjuangan kita bukan hanya soal upah, tapi juga soal kedaulatan atas sumber daya. Melalui diskusi ini, kita ingin memastikan bahwa setiap keringat yang tumpah dalam perjuangan hukum dan gerakan akan membuahkan hasil yang adil, karena mereka yang berjuang memang pantas menjadi pemenang,” ujar Junaedi.
Kegiatan ini mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan, di antaranya:
Lumbung Informasi Rakyat (LIRA)
Ormas Ababil Nusantara
P2T DAS Lumajang
SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) Lumajang
SARBUMUSI
SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia)
Dipandu oleh Junaedi dan Romli Efendi sebagai koordinator, acara yang berlangsung santai di Warkem Toga itu diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis bagi gerakan buruh di Jawa Timur.
Dengan suasana “ngopi bareng“, sekat-sekat antar organisasi dilebur untuk memperkuat solidaritas dalam mengawal isu-isu agraria di masa depan. ***













>