BeritaPemerintahan

Hari Buruh 2026, Ahmad Juhairi: Jangan Sekadar Seremoni, Negara Harus Hadir untuk Buruh

734
×

Hari Buruh 2026, Ahmad Juhairi: Jangan Sekadar Seremoni, Negara Harus Hadir untuk Buruh

Sebarkan artikel ini
Hari Buruh 2026, Ahmad Juhairi: Jangan Sekadar Seremoni, Negara Harus Hadir untuk Buruh
FOTO: Ahmad Juhairi, Anggota DPRD Kabupaten Sumenep Komisi I dari Partai NasDem, @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh setiap 1 Mei kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjuangan kaum buruh dalam menuntut hak dan kesejahteraan.

Anggota DPRD Kabupaten Sumenep Komisi I dari Partai NasDem, Ahmad Juhairi, menyampaikan ucapan selamat Hari Buruh sekaligus mengingatkan agar peringatan itu tidak berhenti pada seremoni tahunan semata.

“Selamat Hari Buruh. Semoga perjuangan kaum buruh dalam memenuhi hak-haknya untuk hidup lebih sejahtera dan lebih adil segera tercapai,” ujar Juhairi.

Ia menegaskan, sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak pernah lepas dari peran strategis kaum buruh.

Mereka menjadi pilar utama dalam menggerakkan roda ekonomi sekaligus menopang pembangunan.

“Setiap bangsa yang maju selalu ditopang oleh kontribusi buruh. Dari tangan mereka, pembangunan berjalan dan kemajuan dapat diwujudkan,” tegasnya.

Politisi Partai NasDem itu juga menekankan bahwa peringatan Hari Buruh harus menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan untuk lebih serius memperhatikan nasib buruh.

Menurutnya, momentum ini bukan hanya soal perjuangan buruh, tetapi juga tentang tanggung jawab negara dalam memastikan pemenuhan hak-hak mereka.

“Ini bukan semata tentang bagaimana buruh memperjuangkan haknya, tetapi bagaimana pemerintah menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak tersebut,” imbuhnya.

Juhairi turut menyoroti sejumlah persoalan klasik yang masih membelit buruh, mulai dari upah yang belum sepenuhnya layak, perlindungan kerja yang minim, hingga jaminan kesejahteraan yang belum merata.

Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada buruh, disertai langkah konkret dari pemerintah agar kesejahteraan tidak hanya berhenti sebagai wacana.

“Tanpa keberpihakan nyata, peringatan Hari Buruh hanya akan menjadi agenda rutin tanpa dampak signifikan bagi kehidupan buruh,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

>