BeritaOpini

Pulau Kecil, Barang Besar: Masalembu dan Jalur Gelap Narkoba

364
×

Pulau Kecil, Barang Besar: Masalembu dan Jalur Gelap Narkoba

Sebarkan artikel ini
FOTO: (ilustrasi) wajah kelam Pulau Masalembu, dermaga sabu yang sunyi, tapi menyimpan ancaman yang tidak main-main. @by_News9.id
FOTO: (ilustrasi) wajah kelam Pulau Masalembu, dermaga sabu yang sunyi, tapi menyimpan ancaman yang tidak main-main. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Percakapan di salah satu grup WhatsApp warga Sumenep belakangan ini membongkar wajah kelam Pulau Masalembu, dermaga sabu yang sunyi, tapi menyimpan ancaman yang tidak main-main.

Kabarnya, pernah ada total 48 kilogram sabu “parkir” di pulau kecil itu. Sebagian besar diyakini sudah menyeberang jauh menembus Surabaya, Jakarta, hingga Bali dan Lombok. Ini bukan isapan jempol.

Buktinya, dua warga Sumenep pernah tertangkap di Sidoarjo dengan barang bukti lebih dari setengah ons sabu. Bukti bahwa jalur Masalembu bukan sekadar rumor kampung.

Peredarannya rapi. Jaringan darat dan laut saling menopang. Bandar kecil menari di balik gelombang.

Sabu Masalembu bahkan terkenal “kelas satu” barang impor, kualitas terbaik, harga gila. Di jalur resmi, 1 kilogram sabu bisa tembus Rp1 miliar.

Di Masalembu, kabarnya bisa dilepas hanya Rp10 juta per kilogram. Kenapa murah? Karena barang harus cepat “dibuang” sebelum terendus aparat.

Inilah logika pasar gelap, barang murah, kualitas wah, konsumen meruah. Sekali lolos satu bungkus, mendadak ada orang-orang baru yang mendadak kaya dan ratusan lainnya mendadak kecanduan.

Cerita drum sabu yang sempat heboh membuktikan betapa masif skema itu. Dari data BNN dan kepolisian, drum sabu itu memuat total 1 kwintal (100 kilogram) sabu kualitas ekspor dari Thailand.

Dari 100 kilogram itu, yang berhasil dikembalikan ke aparat hanya 52 kilogram – 39 kilogram diserahkan awal, sisanya didapat dari operasi ke rumah-rumah warga.

Sisanya? Masih misterius. Hilang, lenyap di laut biru, atau sudah dibagi habis? Tidak ada yang benar-benar berani memastikan.

Angka itu mengerikan jika dihitung ulang. Satu gram sabu bisa dipecah jadi 5 paket kecil, cukup untuk 4 orang.

Satu kilogram berarti 5.000 paket. Kalau benar 48 kilogram masih bebas, artinya 240.000 paket sabu bisa beredar. Itu berarti ratusan ribu orang berpotensi terpapar.

Celakanya, jalur Masalembu-Sapeken-Raas terkenal “segitiga emas” sabu di ujung Madura. Barang diangkut kapal ikan, dibongkar di pulau, dijual lintas provinsi.

Di tengah maraknya isu itu, para “bos lama” pura-pura pensiun. Dalihnya, usia sudah senja, sudah insaf. Nyatanya, regenerasi bandar tetap jalan. Anak-anak muda naik kelas, seniornya menepi, menunggu giliran menari lagi di drum tak bertuan.

Nama-nama pemain di jalur belakang mulai tercium. Kasus di Tajamara, Kolor, jadi contoh. Dua tersangka ditangkap satu pegawai harian lepas Dinas Perikanan, putra pejabat di Dinas Kesehatan, satunya warga Masalembu.

Mereka jelas bukan bos besar, hanya kaki tangan. Sementara “kepala naga” masih bebas. Entah sampai kapan.

Yang jadi tameng selalu sama, rakyat kecil. Yang jadi korban juga sama, generasi muda. Tega rasanya, pulau secantik Masalembu dijadikan pelabuhan sabu bom waktu di lautan biru.

Pertanyaan besarnya, siapa dalang di balik itu semua? Siapa bekingnya? Siapa yang bermain di belakang, menukar masa depan anak-anak kita dengan drum sabu di atas gelombang?

Kalau penegakan hukum hanya berani ke bawah tapi gemetar ke atas, Masalembu tidak akan pernah aman.

Dan Sumenep tinggal tunggu waktu meledak oleh generasi muda yang habis pelan-pelan.

Kita mau apa? Menutup mata? Atau menuntut tuntas Siapa dalangnya? ***

Tinggalkan Balasan

>