SUMENEP, NEWS9 – Warga Dusun Jandir, Desa Batang-Batang Laok, Kecamatan Batang-Batang mengeluhkan mandeknya pembangunan infrastruktur meski Dana Desa terus cair setiap tahun.
Jalan utama menuju permukiman mereka dibiarkan rusak parah sejak bertahun-tahun, tanpa sentuhan perbaikan dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.
Seorang warga setempat menyatakan bahwa alokasi Dana Desa yang bersumber dari APBN dan ADD melalui APBD Sumenep seharusnya bisa menjawab kebutuhan prioritas masyarakat, terutama akses jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, kenyataannya hal itu sangat jauh dari harapan.
“Setiap tahun dana desa pasti ada. Tapi jalan masuk kampung ini rusaknya makin parah. Sampai kapan harus begini?” keluh warga kepada News9.id, Rabu (3/12/2025).
Ia menegaskan bahwa pemerintah seolah-olah hanya berpangku tangan tanpa progres nyata, padahal jalan itu digunakan banyak warga setiap hari.
“Jalan ini dari 2019 tidak pernah diperbaiki. Seharusnya pemerintah hadir, bukan hanya menunggu keluhan warga,” ujarnya.
Warga berharap Dana Desa benar-benar menyentuh pelosok, bukan hanya terserap di atas kertas dan proyek-proyek yang tak menyentuh kebutuhan paling dasar.
Selain pembangunan jalan, Dana Desa juga dialokasikan untuk BLT bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Program itu dinilai baik, tetapi warga menekankan bahwa infrastruktur tetap menjadi kebutuhan mendesak.
“Kalau jalan rusak sengaja dibiarkan, itu sama saja pemerintah tidak ingin melihat desa ini maju,” imbuh warga lain.
Sementara itu, Kepala Desa Batang-Batang Laok, Haris, mengatakan bahwa Dusun Jandir merupakan wilayah luas, sehingga perlu dipastikan titik jalan mana yang dimaksud warga.
“Dusun Jandir ini lebar, Mas. Setiap dusun setiap tahun pasti ada pekerjaan,” ujarnya.
Saat ditanya lokasi pasti kerusakan, Haris membenarkan ada jalan rusak di area dekat sawah.
“Iya ada jalan yang rusak, tapi bukan rusak parah. Di pinggir sawah itu. Sudah kami ukur untuk anggaran tahun 2026. Memang tiap tahun ada pengukuran di masing-masing dusun,” dalihnya.
Meski demikian, warga menganggap penanganan terlalu lambat mengingat kondisi jalan sudah memprihatinkan sejak lama. ***









