Relevansi ‘The Right Man On The Right Place’ di Era AI dan Polemik Ketenagakerjaan Indonesia

- Editorial Team

Kamis, 30 April 2026 - 09:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: (istimewa) Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

FOTO: (istimewa) Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

OPININEWS9 – Ungkapan the right man on the right place yang menekankan penempatan orang yang tepat di posisi yang tepat secara historis berakar pada manajemen klasik untuk efisiensi organisasi.

Di era digital dan kecerdasan buatan (AI) saat ini, relevansi adagium tersebut tidak memudar, melainkan mengalami redefinisi yang fundamental.

Pada masa lalu, adagium ini berfokus pada kecocokan antara keahlian teknis (hard skills) yang statis dengan deskripsi pekerjaan yang kaku.

Baca Juga:  Anggota Polsek Babat, Bripda Sholeh Maulana Raih Emas Di Kejurnas Pencak Silat Piala Kemenpora Bali Arisaka Championship 2025

Saat ini, AI telah mengotomatisasi banyak tugas rutin dan analitis tingkat dasar. Akibatnya, posisi manusia yang “tepat” kini bergeser ke ranah yang tidak dapat direplikasi oleh mesin, seperti empati, pemikiran kritis, kreativitas, dan kepemimpinan strategis.

Menempatkan manusia di tempat yang tepat di era sekarang berarti membebaskan mereka dari pekerjaan administratif untuk fokus pada inovasi bernilai tinggi.

Dinamika era digital menuntut kelincahan (agility). Pekerjaan berkembang dengan sangat cepat sehingga keahlian spesifik bisa usang dalam hitungan tahun.

Baca Juga:  Komisi II DPRD Sumenep Desak Relokasi PKL Secara Manusiawi dan Tepat Sasaran

Oleh karena itu, definisi orang yang “tepat” kini lebih ditekankan pada kemampuan beradaptasi (adaptability) dan kemauan belajar yang terus-menerus (continuous learning), bukan sekadar gelar atau pengalaman masa lalu.

Seseorang dinilai tepat jika ia mampu berkolaborasi secara harmonis dengan teknologi AI, memanfaatkan alat tersebut untuk melipatgandakan produktivitasnya.

Meskipun demikian, prinsip dasarnya tetap mutlak relevan. Kegagalan menempatkan talenta yang memiliki literasi digital dan kecerdasan emosional di posisi strategis akan membuat organisasi tertinggal dalam disrupsi teknologi.

Baca Juga:  Hidup Hemat, Fondasi Membentuk Keluarga dan Generasi Yang Bijak

Bisa saya katakan bahwa, pepatah ini masih sangat relevan namun membutuhkan perluasan makna, artinya konsep ini tidak lagi sekadar tentang mencocokkan manusia dengan kotak statis dalam struktur organisasi, melainkan tentang bagaimana menempatkan manusia dengan kapasitas kognitif dan adaptabilitas tinggi untuk memimpin dan berinovasi bersama ekosistem digital. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Surat AI pada Presiden dan Menhan
TEMPO Berjudi di Madura
Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?
Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)
Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI
Kecerdasan Buatan dan ‘kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Gambaran Konsep Maha Raya Festival Sumenep 2026
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Surat AI pada Presiden dan Menhan

Sabtu, 12 September 2026 - 22:52 WIB

TEMPO Berjudi di Madura

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:05 WIB

Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:39 WIB

Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI

Berita Terbaru