OPININEWS9 – Kritik Keras terhadap Karnaval yang Kehilangan Esensi Kemerdekaan.
Membaca fenomena karnaval Agustusan yang dari tahun ke tahun semakin marak dan semakin besar, muncul satu pertanyaan sederhana tetapi penting:
Apa sebenarnya manfaat karnaval seperti ini bagi eksistensi bangsa dan negara?
Jangan sampai atas nama perayaan kemerdekaan, kita justru menghabiskan energi, waktu, biaya, serta mengganggu kepentingan masyarakat luas tanpa memberikan nilai pendidikan dan kebangsaan yang nyata.
Kemacetan, terganggunya aktivitas masyarakat, tertutupnya akses jalan publik, hingga potensi terjadinya kecelakaan adalah mudharat yang sangat mudah kita lihat. Jalan yang seharusnya menjadi fasilitas umum berubah menjadi arena pertunjukan berjam-jam.
Lebih memprihatinkan lagi, Karnaval HUT RI di Kecamatan Batang-Batang kemarin justru dicederai oleh adanya penampilan yang dinilai melecehkan simbol-simbol agama dan para wali yang selama ini menjadi bagian penting dari sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat.
Anak-anak pelajar seharusnya mendapatkan ruang untuk mengekspresikan kreativitas. Tetapi kreativitas tidak boleh kehilangan etika, adab, dan penghormatan terhadap nilai agama.
Jangan sampai sesuatu yang disebut “hiburan” justru berubah menjadi tontonan yang menjijikkan, memuakkan, dan melukai perasaan masyarakat.
Kemerdekaan bukan berarti bebas menghina.
Kreativitas bukan berarti bebas melecehkan.
Karnaval bukan berarti bebas mempertontonkan apa saja.
Kita harus bertanya: apakah generasi muda sedang diajarkan mencintai bangsa, menghormati agama dan sejarah, atau justru sedang dibiasakan menganggap penghinaan sebagai sebuah kreativitas?
Kalau memang tujuan karnaval adalah memperingati kemerdekaan, maka tampilkanlah semangat perjuangan, budaya, pendidikan, kreativitas, gotong royong, dan penghormatan kepada para ulama serta pejuang bangsa.
Jangan menjadikan momentum HUT RI sebagai alasan untuk mempertontonkan sesuatu yang bertentangan dengan norma agama dan kepatutan sosial.
GJKTD (Gerakan Jihad Kemerdekaan Timur Daya) menyatakan akan menempuh langkah hukum dengan melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada Polresta Sumenep dan meminta aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara objektif terhadap penyelenggara maupun pihak-pihak yang terlibat.
Ini bukan soal anti-karnaval.
Ini soal batas antara kreativitas dan penghinaan.
Ini soal kebebasan yang harus tetap memiliki tanggung jawab.
Dan ini soal bagaimana kita menghormati agama, sejarah, serta martabat bangsa di tengah perayaan kemerdekaan.
Jika kemerdekaan dirayakan dengan cara yang justru melukai nilai-nilai yang kita junjung, maka kita patut berhenti sejenak dan bertanya:
“Karnaval Agustusan ini sebenarnya sedang merayakan kemerdekaan, atau justru sedang mempertontonkan kebebasan tanpa batas?” ***
Penulis : Emha Bayjoeri
Editor : Redaksi
Sumber Berita: https://News9.id









