Kecerdasan Buatan dan ‘kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia

- Redaktur

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: (ilustrasi), Gemini AI. @by_News9.id

FOTO: (ilustrasi), Gemini AI. @by_News9.id

OPININEWS9 – Bayangkan seorang nenek yang mulai kesulitan melihat tulisan kecil di layar ponselnya. Dulu, ia mungkin harus meminta bantuan anak atau cucunya hanya untuk mencari informasi. Kini, cukup dengan berbicara, ia bisa mengoperasikan gawai. Di sinilah kecerdasan buatan (AI) perlahan masuk ke kehidupan lansia Indonesia.

Perubahan ini menjadi semakin penting karena Indonesia telah memasuki era ageing population. Berdasarkan data terbaru BPS tahun 2026 yang saya dapatkan, jumlah lansia mencapai sekitar 34 juta jiwa atau 11,97% dari total penduduk. Menariknya, kepemilikan gawai di kalangan lansia telah mencapai 52,23%, sementara penetrasi internet mencapai 34%. Artinya, teknologi semakin dekat dengan kehidupan mereka.

Baca Juga:  Pengalaman Pertama Mendampingi Achmad Fauzi dalam Kampanye Turba

AI dapat membantu lansia menjalani hidup dengan lebih mandiri. Fitur voice command memudahkan mereka yang mengalami penurunan penglihatan atau kemampuan motorik untuk menggunakan gawai, menikmati hiburan, hingga beribadah secara digital. Di penting seperti kesehatan, perangkat seperti smartwatch dengan pendeteksi detak jantung abnormal dan pengingat obat pintar juga dapat membantu. Bukan lagi seperti di film, robot pendamping adaptif sudah ‘lahir’ dan bahkan berpotensi mengurangi kesepian, sementara AI dapat membantu mendeteksi lebih dini penyakit seperti demensia atau Alzheimer.

Baca Juga:  Sekutu Empat Bandar Narkoba Masalembu dengan Oknum Kapolsek

Namun, harus disadari bahwa kemudahan tersebut datang bersama risiko. Rendahnya digital skill dan digital safety, sebagaimana terlihat dalam IMDI, membuat lansia rentan terhadap penipuan. Deepfake video atau kloning suara yang menyerupai anggota keluarga dapat digunakan untuk memanipulasi mereka. Ini sangat bahaya, apalagi jika dalam kondisi minim literasi.

Baca Juga:  Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Karena itu, AI seharusnya tidak boleh menggantikan manusia. Lansia Indonesia tetap membutuhkan percakapan, perhatian, sentuhan, dan kehangatan keluarga. Pemerintah, keluarga, dan pengembang teknologi perlu bersama-sama meningkatkan literasi digital melalui pendekatan yang sederhana dan ramah lansia.

Jadi, AI dapat diperlakukan sebagai mitra menuju healthy aging, selama teknologi digunakan untuk membantu manusia, bukan menggantikan kemanusiaan itu sendiri.(AW.AI-100820261). ***

Facebook Comments Box

Penulis : Aries Widojoko,

Editor : Redaksi

Sumber Berita: https://News9.id

Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?
Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)
Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Gambaran Konsep Maha Raya Festival Sumenep 2026
Mewujudkan Amanat Konstitusi: Langkah Nyata dan Peran Gerakan
Pendidikan Inklusif Tidak Boleh Berhenti pada Regulasi
MBG: Malaikat Berjubah Gelap
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:05 WIB

Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:39 WIB

Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:50 WIB

Kecerdasan Buatan dan ‘kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Berita Terbaru

FOTO: dr. Erliyati, M.Kes., (kiri), Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. @by_News9.id

KESEHATAN

RSUD Sumenep Masuk Enam Stan Terbaik di MNV 2026

Sabtu, 5 Sep 2026 - 06:36 WIB