SUMENEP, NEWS9 – Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Desa Badur, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, Madura, menuai kritikan.
Bukan soal cepat atau lambatnya pembangunan, melainkan kualitas pekerjaan dan material yang digunakan.
Forum Masyarakat Peduli Kebijakan (FMPK) Sumenep mempertanyakan pengawasan teknis terhadap pembangunan tersebut.
Mereka menilai sejumlah bagian konstruksi perlu dievaluasi karena terdapat dugaan penggunaan material yang tidak sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan.
Suhardi, perwakilan FMPK Sumenep, mengatakan persoalan yang menjadi perhatian antara lain konstruksi rangka atap, besi siku, kuda-kuda, hingga material penutup atap seperti spandek dan galvalum.
Menurutnya, kualitas material konstruksi tidak semestinya dikorbankan hanya demi mengejar percepatan penyelesaian pekerjaan dan pencairan termin.
“Penanggung jawab pekerjaan atau vendor ini hanya dituntut percepatan penyelesaian pekerjaan dan harus sesuai progres sehingga bisa termin,” ujar Suhardi, Kamis (24/9/2026).
Dia menegaskan, pembangunan infrastruktur publik semestinya tidak berhenti pada persoalan progres fisik.
Kualitas dan kesesuaian material dengan spesifikasi teknis juga harus menjadi perhatian utama.
“Yang kami pikirkan adalah bagaimana pembangunan infrastruktur ini bisa berkualitas. Jangan sampai progres cepat, tetapi mutu pembangunan justru dipertanyakan,” katanya.
Selain itu, Suhardi juga menyoroti penggunaan material pada bagian atap.
Dia menyebut terdapat material galvalum maupun spandek yang dinilai terlalu tipis dan ringan.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi daya tahan bangunan, terutama ketika menghadapi cuaca buruk dan beban angin.
“Spandek yang tipis dan ringan berpotensi rusak, apalagi ketika cuaca buruk. Kalau pemasangannya tidak kuat, bisa lepas dari kuda-kuda,” ujar Suhardi.
Pantauan FMPK tidak hanya tertuju pada pembangunan di Desa Badur.
Suhardi juga menyinggung kondisi bangunan Koperasi Merah Putih di Desa Lapa Laok, Kecamatan Dungkek.
Dia mengklaim bagian atap bangunan di lokasi tersebut pernah mengalami masalah hingga terlepas.
“Di Desa Lapa Laok, Kecamatan Dungkek, atapnya terlihat lepas karena tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan,” ungkapnya.
Persoalan itu, menurut FMPK, semestinya menjadi alarm bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi terhadap seluruh pembangunan Koperasi Merah Putih di Kabupaten Sumenep.
Evaluasi diperlukan bukan hanya untuk melihat persentase penyelesaian pekerjaan, tetapi juga memastikan material yang digunakan sesuai spesifikasi, metode pengerjaan memenuhi standar teknis, serta hasil akhirnya aman dan layak digunakan masyarakat.
“Semua bahan pembangunan Koperasi Merah Putih yang ada di Sumenep masih perlu dievaluasi secara serius. Fakta dan datanya harus dibuka. Jangan sampai ada bangunan yang belum digunakan tetapi sudah mulai mengalami kerusakan,” tegas Suhardi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana pekerjaan maupun pihak terkait lainnya belum memberikan keterangan resmi lantaran keterbatasan akses komunikasi. ***
Penulis : Nola
Editor : Seno CS
Sumber Berita: https://News9.id









