Batas Tipis Over Ambisi & Keilahian. “Playing God”

- Redaksi

Minggu, 8 Maret 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: (istimewa) Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

FOTO: (istimewa) Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

OPININEWS9 – “Saya akan ganti presiden negara X

Pimpinan negara itu sudah saya pilihkan

Saya tidak tergantung pada hukum manapun

Saya adalah presiden negara Y

Setelah ini yang saya serang adalah negara Z“.

Kalimat – kalimat semacam itu belakangan ramai diucapkan oleh orang tertentu, tanpa rasa ragu apalagi malu.

Dalam sejarah peradaban, kekuasaan sering kali bukan sekadar instrumen tata kelola, melainkan candu yang memicu delusi keilahian.

Baca Juga:  Menjaga Masa Kini, Menyelamatkan Masa Depan: Penolakan Survei Seismik di Laut Kangean

Fenomena playing god atau “bermain peran sebagai Tuhan” terjadi ketika seorang pemimpin merasa memiliki kendali mutlak atas nasib, moralitas, dan kebenaran.

Di titik ini, hukum alam dan kemanusiaan dianggap sebagai penghalang yang harus ditaklukkan demi visi pribadi yang absolut.

Seseorang yang terjebak dalam delusi ini cenderung memanipulasi realitas seolah mereka adalah pencipta takdir.

Baca Juga:  GAWAT Soroti Bobroknya Pengelolaan Dana Desa Baturasang 

Mereka merancang narasi, menentukan siapa yang layak hidup sejahtera dan siapa yang harus dikorbankan, seolah-olah memiliki otoritas moral yang tak terhingga.

Penggunaan teknologi, rekayasa sosial, hingga represi dilakukan untuk menciptakan ketergantungan total rakyat kepada sang penguasa.

Namun, sejarah selalu mencatat akhir yang serupa: upaya manusia untuk meniru kekuasaan Tuhan selalu berbenturan dengan keterbatasan kodrati mereka sendiri.

Kekuasaan yang tepat seharusnya berpijak pada kerendahan hati dan pelayanan, bukan pada upaya melampaui batas kemanusiaan.

Baca Juga:  Ketahanan Pangan Diperkuat, Babinsa Pandansari Dampingi Panen Padi di Poktan Gempol Makmur

Ketika seorang penguasa mulai merasa tak tersentuh oleh kritik dan hukum, ia sebenarnya sedang membangun menara Babel-nya sendiri.

Pada akhirnya, “bermain sebagai Tuhan” hanyalah bentuk pelarian dari ketakutan manusia akan kematian dan ketidakberdayaan, yang justru sering kali berakhir pada kehancuran diri sendiri dan struktur sosial yang ia bangun. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Gambaran Konsep Maha Raya Festival Sumenep 2026
Mewujudkan Amanat Konstitusi: Langkah Nyata dan Peran Gerakan
Pendidikan Inklusif Tidak Boleh Berhenti pada Regulasi
MBG: Malaikat Berjubah Gelap
Hidup Hemat, Fondasi Membentuk Keluarga dan Generasi Yang Bijak
Penjahat Bernama Prabowo
Marjinalisasi Hukum di Wilayah Kepulauan: Potret Sengkarut Tata Kelola Menara Tbk
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:26 WIB

Gambaran Konsep Maha Raya Festival Sumenep 2026

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:47 WIB

Mewujudkan Amanat Konstitusi: Langkah Nyata dan Peran Gerakan

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:00 WIB

Pendidikan Inklusif Tidak Boleh Berhenti pada Regulasi

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:45 WIB

MBG: Malaikat Berjubah Gelap

Berita Terbaru