BeritaOpini

Batas Tipis Over Ambisi & Keilahian. “Playing God”

169
×

Batas Tipis Over Ambisi & Keilahian. “Playing God”

Sebarkan artikel ini
Batas Tipis Over Ambisi & Keilahian. "Playing God"
FOTO: (istimewa) Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

OPININEWS9 – “Saya akan ganti presiden negara X

Pimpinan negara itu sudah saya pilihkan

Saya tidak tergantung pada hukum manapun

Saya adalah presiden negara Y

Setelah ini yang saya serang adalah negara Z“.

Kalimat – kalimat semacam itu belakangan ramai diucapkan oleh orang tertentu, tanpa rasa ragu apalagi malu.

Dalam sejarah peradaban, kekuasaan sering kali bukan sekadar instrumen tata kelola, melainkan candu yang memicu delusi keilahian.

Fenomena playing god atau “bermain peran sebagai Tuhan” terjadi ketika seorang pemimpin merasa memiliki kendali mutlak atas nasib, moralitas, dan kebenaran.

Di titik ini, hukum alam dan kemanusiaan dianggap sebagai penghalang yang harus ditaklukkan demi visi pribadi yang absolut.

Seseorang yang terjebak dalam delusi ini cenderung memanipulasi realitas seolah mereka adalah pencipta takdir.

Mereka merancang narasi, menentukan siapa yang layak hidup sejahtera dan siapa yang harus dikorbankan, seolah-olah memiliki otoritas moral yang tak terhingga.

Penggunaan teknologi, rekayasa sosial, hingga represi dilakukan untuk menciptakan ketergantungan total rakyat kepada sang penguasa.

Namun, sejarah selalu mencatat akhir yang serupa: upaya manusia untuk meniru kekuasaan Tuhan selalu berbenturan dengan keterbatasan kodrati mereka sendiri.

Kekuasaan yang tepat seharusnya berpijak pada kerendahan hati dan pelayanan, bukan pada upaya melampaui batas kemanusiaan.

Ketika seorang penguasa mulai merasa tak tersentuh oleh kritik dan hukum, ia sebenarnya sedang membangun menara Babel-nya sendiri.

Pada akhirnya, “bermain sebagai Tuhan” hanyalah bentuk pelarian dari ketakutan manusia akan kematian dan ketidakberdayaan, yang justru sering kali berakhir pada kehancuran diri sendiri dan struktur sosial yang ia bangun. ***

Tinggalkan Balasan

>