BeritaPeristiwa

Overkapasitas Kapal Sabuk Nusantara 92: Penumpang Terlantar, Nyawa Dipertaruhkan

352
×

Overkapasitas Kapal Sabuk Nusantara 92: Penumpang Terlantar, Nyawa Dipertaruhkan

Sebarkan artikel ini
Overkapasitas Kapal Sabuk Nusantara 92: Penumpang Terlantar, Nyawa Dipertaruhkan
FOTO: Sejumlah penumpang yang memiliki tiket resmi justru tidak mendapatkan tempat tidur yang layak selama perjalanan. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Lonjakan penumpang pada Kapal Sabuk Nusantara 92 rute Masalembu–Surabaya kembali menyorot lemahnya pengawasan keselamatan transportasi laut.

Sejumlah penumpang yang telah mengantongi tiket resmi justru tidak mendapatkan tempat tidur yang layak selama perjalanan.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Musriyanto, yang menyebut kondisi di dalam kapal jauh dari standar keselamatan.

Penumpang terpaksa berdesakan, bahkan banyak yang tidur di pinggir dek hingga bagian belakang kapal.

“Mereka yang sudah punya tiket tidak dapat tempat tidur. Banyak yang tidur di pinggir dek dan belakang kapal. Ini sangat membahayakan nyawa, apalagi perjalanan mencapai 18 jam,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurutnya, situasi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi keselamatan jiwa.

“Posisi tidur di area terbuka kapal, terutama di bagian belakang dan tepi dek, sangat rentan terhadap gelombang laut, terpeleset, hingga risiko jatuh ke laut,” jelasnya.

Lonjakan penumpang yang tidak diimbangi dengan kapasitas memadai menimbulkan dugaan kuat adanya pembiaran terhadap praktik overkapasitas.

Padahal, kata dia, aturan keselamatan pelayaran secara tegas mengatur batas jumlah penumpang demi mencegah potensi kecelakaan di laut.

“Di situ juga ada murid mau balik ke pondok Attaufiqqiyah, yaitu murid dari pada wakil Bupati Sumenep yang tidak kebagian tempat tidur,” ungkapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak operator kapal maupun otoritas terkait mengenai langkah penanganan kondisi tersebut lantaran keterbatasan komunikasi.

Ia meminta adanya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang, terutama pada rute-rute kepulauan yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat.

“Jika kondisi ini dibiarkan, bukan hanya mencerminkan kelalaian, tetapi juga bentuk abai terhadap keselamatan warga yang seharusnya dilindungi,” tandasnya. ***

Tinggalkan Balasan

>