SUMENEP, NEWS9 – Air deras mengalir tanpa hambatan. Tidak ada lagi akar pohon yang menyerap air, tidak ada lagi bebatuan yang menahan alirannya.
Pepohonan besar telah ditebang, banyak yang diambil untuk dijadikan bonsai dan dikirim ke tempat lain.
Sementara itu, aktivitas galian terus dilakukan tanpa aturan yang jelas. Akibatnya, banjir pun melanda.
Hari ini, banjir meluap dan masuk ke dalam rumah-rumah warga serta dapur-dapur di sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep.
Desa Kebunagung, Desa Batuan, dan desa-desa sekitarnya menjadi titik terparah terdampak.
Bahkan, jebolnya tanggul di belakang Kantor UPT Pengairan memperparah aliran air yang mengarah ke Desa Babbalan.
Menyikapi hal itu, Idris Bawafie, pemerhati lingkungan sekaligus pendiri BGE Foundation yang aktif dalam program penghijauan, mulai angkat bicara.
Ia menghimbau masyarakat dan pemerintah untuk lebih serius memperhatikan kondisi lingkungan.
“Bumi ini rumah kita. Sudah saatnya kita melakukan konservasi air dan alam. Jangan hanya menata kota, bukit-bukit di desa juga sangat butuh program penghijauan,” terangnya kepada News9.id, Selasa (13/5/2025).
Idris juga mengungkapkan masalah lain yang kerap terabaikan, banyaknya monyet liar yang turun ke permukiman warga.
Menurutnya, hal itu terjadi karena habitat mereka di perbukitan telah rusak akibat penebangan pohon secara masif.
“Mereka tidak punya tempat tinggal dan sumber makanan, sehingga turun ke rumah-rumah warga untuk berteduh dan mencari makan,” jelasnya.
Ia pun bertanya-tanya, apakah banjir ini adalah akibat langsung dari penambangan yang tak terkendali, yang terus mengikis tanah, batu, dan pepohonan sebagai penyerap air hujan.
“Entahlah… Wallahu a’lam,” kata seorang pemerhati lingkungan sekaligus pendiri BGE Foundation itu dengan nada pasrah.
Sementara, situasi tersebut menjadi peringatan keras akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
“Tanpa itu, bencana akan terus datang, dan dampaknya akan semakin luas,” pungkas Idris Bawafi. ***












