BeritaOpini

Kades yang Ahli Menutup Telinga

314
×

Kades yang Ahli Menutup Telinga

Sebarkan artikel ini
Kepala Desa yang Ahli Menutup Telinga
FOTO: (Ilustrasi) Warga saat menyampaikan keluh kesah, tangan sang Kepala Desa refleks terangkat menutup telinganya. @by_News9.id

NEWS9OPINI – Di sebuah desa yang konon makmur, hiduplah seorang kepala desa yang dikenal luas karena keahliannya. Namun, keahlian itu bukan dalam hal memimpin, melainkan dalam seni menutup telinga.

Setiap kali muncul riak-riak keluhan dari warganya tentang jalan berlubang, sumur kering, sumber mata air yang tak lagi mengalir, hingga kisah tiga kepala dusun yang memilih “menghilang” dari perannya Bapak Kepala Desa Sera Barat, Munasit, selalu tanggap.

Tanggap bukan untuk menyelesaikan, tapi untuk menutup rapat-rapat telinganya.

Warga sudah hapal betul kebiasaannya. Begitu sang kepala desa muncul, dan ada warga yang mulai menyampaikan keluh kesah, tangannya refleks terangkat.

Seolah ada sirine darurat yang hanya bisa didengar olehnya pertanda bahwa sudah waktunya menutup gerbang suara.

Mungkin dalam benaknya, “Jika tak kudengar, maka masalah itu tak ada.” Atau barangkali, “Suara rakyat hanyalah angin lalu, biarkan saja berlalu.”

Namun sayangnya, realitas tak seindah khayalannya. Ketika banjir bandang melanda dan warga berteriak minta tolong,

Pak Lurah! Rumah kami terendam!” Bapak Kepala Desa menjawab santai, kedua telinganya masih tertutup,

Hah? Apa? Saya tidak dengar! Suaranya terlalu bising!

Saat kemarau panjang melanda, tanah retak, dan warga antre air bersih, mereka memohon,

Pak Lurah, anak-anak kami kehausan!” Beliau hanya tersenyum sebuah senyum tipis yang lebih mirip ejekan sambil tetap dalam “mode tuli”, menikmati simfoni keheningan yang ia ciptakan sendiri.

Kini warga paham, yang tuli bukan telinganya, melainkan hatinya.

Hati yang memilih tak mau mendengar, hati yang menolak berempati. Padahal, telinga adalah jendela bagi hati tempat empati tumbuh dan solusi dimulai.

Ah, sudahlah,” ujar seorang warga tua. “Biarkan saja beliau menikmati ketenangan palsunya. Masalah tak akan selesai hanya dengan menutup telinga. Kita yang harus membuka mata dan mencari pemimpin yang mau mendengar.

Dan di tengah hiruk-pikuk keluhan rakyat yang tak kunjung didengar, Munasit tetap kokoh berdiri menjadi patung ketulian di tengah suara rakyat yang perlahan berubah menjadi teriakan perlawanan. ***

Tinggalkan Balasan

>