RUBRIKNEWS9 – Songennep sangat banyak peninggalan situs sejarah, hingga puluhan atau sampai ratusan, yang sampai saat sekarang masih dalam masa pelacakan/penelusuran bagi pegiat sejarah di Nusantara.
Salah satu diantaranya adalah beberapa patung/arca yang ada di halaman tengah Kantor Koneng (Koninklijk = kantor Raja; Belanda) di Keraton Songennep.
Disana ada 3 buah Arca, 1 Yoni & 1 Relief terbuat dari batu andesit, bila ditinjau dari segi Ikinografi, benda atau arca tsb ber-khas Jawa-timuran, yakni sbg berikut :
A. 1 Arca menggambarkan Dewa Wisnu dengan sikap berdiri tegak (abhangga), kebalikan tribhangga; (patah tiga). Tangan 4 buah, kostum lengkap, tangan kiri belakang pegang cakra bersinar, tangan kanan belakang pegang sangka (siput) bersinar. 2 tangan depan sudah patah, sepertinya bersikap (mudra) anjali (menyembah, bhakti / memutar benda), bagian bawah kanan dekat kaki ada jambangan bunga lotus (teratai) yang menjulur keatas, bawah kiri ada arca kecil bagai manusia (dewa) pengikutnya.
B. Sebuah Arca, juga sama dg diatas.
C. Sebuah Arca yang menggambarkan seorang Pendeta Waisynawa, sedang memuja mantra.
D. Sebuah Yoni yang unik berbentuk pancuran yang disangga oleh seekor naga. Dibidang sebelah kiri ada arca Garudea (Garuda), burung kendaraan dewa Wisnu selaku Raksaning Rat (Dewa pelindung dunia). Yoni tsb adalah lambang kewanitaan Dewi Uma/Dewi Durga/Dewi Parwati, yang untuk letakkan lingga (lambang laki-laki Dewa Syiwa) atau Dewa lain sebagai Upapitha.
E. Sebuah Relief bergaya Jawa-timuran, yang tidak jelas kemana arah & maksudnya, diperkirakan ceritera Panji.
Sepertinya Arca tersebut berasal pada kisaran abad ke XIII atau dari jaman Singosari awal, yang agak beda dengan versi Majapahit.
Kalau jaman Majapahit, lotus (teratai)nya tumbuh dari tuber (bonggol)nya, seperti Agastya pada candi Singosari, candi Sumberjati & candi Rimbi.
Arca/Patung tersebut ditemukan di dekat pantai kampung Arca Desa Dungkek kecamatan Dungkek, yang diperkirakan dekat dg keratonnya Nararrya Kulupkuda yang memerintah di kerajaan Madura tahun 1255-1269 (prasasti Mula Malurung). Pada pemerintahan Bupati Drs Abddurrahman (th 1965), arca-arca tersebut dipindah ke Museum, sekarang ditempatkan di halaman tengah Kantor Koneng Keraton Sumenep.
Tempat ditemukannya Arca Betara Wisnu beserta Yoni dan lainnya, pada sebelah baratnya ada sebuah gua hasil pahatan manusia jaman dulu yang diperkirakan sebagai sanggar pamujan agama Hindu.
Setelah beberapa ratus tahun kemudian maka sanggar tersebut dirubah fungsi dijadikan musholla dalam lekuk tebing batu.
Di sebelah baratnya ada desa Candi yang tersisa puing-puing bangunan kuno seperti sebuah candi, disitulah diperkirakan keratonnya Nararya Kulupkuda.
Dahulu di depan Labâng Mèsem (pintu gerbang keraton) ada 2 buah patung kanan kiri berupa patung Dwarapala (raksasa cebol) duduk tersenyum memikul gada, kemudian hilang entah kemana.
Konon merupakan hadiah dari Raja Bali pada Sultan Abdurrahman. Makanya gapura agung keraton Sumenep diberi nama Labâng Mèsem (Dwarapala tersenyum) …. sekarang diganti dengan 2 buah meriam (Canon 14,7) buatan Belanda, yang moncongnya menghadap keluar (selatan).
Di Somber Tokat Desa Banasare Kecamatan Rubaru ada sebuah Arca/patung setinggi 2 meter. Diperkirakan dekat keratonnya Pangeran Secodiningrat. Arca tersebut dibawah pengawasan BPCB Prov Jawa Timur, namun memasuki era Reformasi hilang tanpa bekas.
Sedangkan data hasil kajian dari BPCB sampai sekarang belum ada (hanya sayangnya kami belum sempat melakukan kajian, sehingga tidak diketahui secara persis patung apa/siapa/jenis batu/asesoris/jaman dll)
Sumber:
~ Drs Abdurraman, 1971, Madura Selayang Pandang
~ M.M. Sukarto, 1990, Sekitar Masakah Hari Jadi Sumenep
~ Tadjul Arifien R, 2024, Kajian Arkeologi, Ensiklopedia Cagar Budaya Sumenep, UNIBA Madura Press
~ TACB, 2019, Hasil kajian Tim Ahli Cagar Budaya, Disbudparpora Sumenep
(bersambung ….. )









