SUMENEP, NEWS9 – Pertama kali membaca e-book yang berjudul “Yudi The Connector”, awalnya berpikir buku teori atau networking yang berat dan penuh trik manipulatif cara “memanfaatkan” orang demi uang. Tapi, ternyata itu salah besar.
Buku ini justru semacam tamparan lembut yang mengingatkan kita soal hakikat hubungan antar manusia, yang dibungkus dengan konsep unik bernama “Matematika Langit”.
Hal itu diungkapkan oleh Dr. Isyak Meirobie, S.Sn., M.Si., CBA. (Asisten Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi) saat mereview e-book “Yudi The Connector” pada hari Minggu (14/06).
Ia mengatakan, buku ini sebenarnya adalah hasil bedah isi kepala dan perilaku nyata dari seorang pria bernama Yudi Ananta, warga biasa dari Sumenep – Madura yang juga pencetus Hari Sales Sedunia. Si penulis, Aziz Holis (Docmark), tidak sengaja bertemu Yudi di sudut kota Sumenep.
“Dari obrolan dan pengamatan si penulis terhadap aksi sosial Yudi seperti : Komunitas Tabur Baik, dan layanan Mobil Baik, akhirnya merumuskan sebuah formula kehidupan. Sedangkan yang membuat buku ini terasa “manusiawi” dan emosional adalah latar belakangnya. Yudi bukan orang yang hidupnya mulus-mulus aja. Dia pernah dihantam takdir kehilangan anak kandungnya di masa-masa kebahagiaannya sedang memuncak. Tapi alih-alih tenggelam dalam trauma, dia justru membalikkan rasa sakit itu menjadi energi kinetik untuk menolong orang lain,” jelasnya.
Menurut pria yang pernah menjabat Wakil Bupati Belitung periode 2019-2024 ini, konsep Kinetic Kindness vs Kebaikan Statis dalam e-book tersebut sangat menarik untuk diulas.
“Penulis membagi kebaikan jadi dua jenis: 1. Kebaikan Statis: Ibarat air di dalam gelas. Menyegarkan, tapi cuma buat yang minum. 2. Kebaikan Kinetik (Kinetic Kindness): Ibarat aliran sungai yang terus bergerak, bawa nutrisi dari satu titik ke titik lain, dan menghidupkan ekosistem di sepanjang jalurnya. Sementara Yudi masuk di kategori ini,” ujarnya.
Isyak menerangkan, ada beberapa bab yang sangat relatable dengan kehidupan modern sekarang:
1. Aggressive Benevolence (memaksa untuk menolong) : Kadang orang itu terlalu gengsi atau malu untuk minta tolong. Di sini kita diajari cara “menyusup” dengan elegan untuk memberi solusi tanpa membuat orang lain merasa rendah diri.
2. The Competitive Giver: Kalau biasanya kita kompetitif soal harta atau jabatan, buku ini menantang kita buat kompetitif dalam memberi. Yudi punya mental unik : dia merasa “kalah” atau rugi kalau seharian tidak ada orang yang bisa dia bantu atau dia hubungkan.
3. The Digital Interaction Ethics : Bagian ini praktis sekali untuk generasi muda atau profesional zaman sekarang. Penulis membahas adab nge-chat (pakai rumus salam-isi-salam), kewajiban membalas chat (agar tidak asal ghosting), sampai trik mengelola notifikasi biar tidak muncul tanda “Read” sebelum kita siap memberi solusi. Relatable banget, kan?
Kata Isyak, buku ini bukan tipe buku motivasi yang cuma nyuruh kita “Ayo semangat! Kamu pasti bisa!” lewat kata-kata manis. Buku ini lebih ke arah panduan taktis-spiritual. Bahasanya santai (bahkan sering bawa-bawa istilah seharian seperti WhatsApp, ojek payung, kopi, dll), tapi maknanya dalam.
“Pesan paling mengena dari buku ini sederhana yakni : Kebaikan itu bukan biaya (cost), melainkan bahan bakar (fuel). Seringkali pintu rezeki kita terbuka justru pas kita lagi sibuk membukakan jembatan atau pintu rezeki untuk orang lain,” tutupnya.
Sementara itu Yudi Ananta – Narasumber e-book “Yudi The Connector” mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk review yang disampaikan langsung oleh Bapak Dr. Isyak Meirobie via chat WhatsApp di sela-sela kesibukan beliau yang padat.
Lebih lanjut Pria yang dikenal sebagai Founder Komunitas Tabur Baik ini, mengaku banyak belajar tentang kehidupan pada Dr. Isyak Meirobie karena jiwa kepemimpinan (leadersip) beliau yang kuat saat menjabat Wakil Bupati Belitung tahun 2019-2024 lalu.
Yudi berharap hadirnya e-book “Yudi The Connector” bisa bermanfaat bagi sesama khususnya generasi muda dalam upaya mengasah dan meningkatkan kemampuan komunikasi masing-masing individu, sehingga ke depan bisa berkomitmen dan konsisten menjadikan kebaikan sebagai hobi dalam kehidupan sehari-hari. ***












