SUMENEP, NEWS9 – Warga Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, terpaksa begadang tiap malam demi mendapatkan setetes air bersih dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Sumekar.
Pasalnya, sudah berbulan-bulan pasokan air ke desa tersebut anjlok drastis.
Kondisi itu membuat warga menanggung beban ganda dengan tarif air dinaikkan sejak awal Agustus 2025, tapi pelayanan justru kian amburadul.
Supiyati, warga Dusun Dhalem, mengaku harus mengorbankan waktu tidur hanya untuk mengisi jeding di rumahnya.
“Betul Pak, saya terpaksa bangun tengah malam untuk mengisi jeding. Siang hari saya kerja kuli garam, kalau siang airnya tidak menetes, kalaupun ada itu sangat minim,” ungkapnya dengan nada kesal, Minggu (14/9/2025).
Selai itu, Supiyati juga harus mencuci pakaian tengah malam.
Bebannya semakin berat ketika dua keponakannya pulang dari pondok pesantren untuk liburan Maulid.
Penggunaan air pun otomatis melonjak, sementara suplai tetap seret.
“Harga airnya naik, tapi pelayanannya kok begini? Padahal warga Pinggirpapas kalau musim kemarau berkurang separuh karena banyak yang merantau jadi petani garam di luar daerah,” keluhnya.
Fakta itu makin menohok karena sebagian warga Pinggirpapas memang mencari nafkah jauh dari kampung, bahkan hingga ke luar pulau.
Namun, bagi mereka yang bertahan, PDAM Sumekar justru menghadiahkan luka ganda tarif naik, layanan jeblok.
“Kami mendesak PDAM Sumekar agar tidak sekadar menuntut setoran dari pelanggan, tapi juga memastikan hak dasar masyarakat atas air bersih terpenuhi. Jika tidak, kredibilitas perusahaan pelat merah ini akan terus terjun bebas di mata publik,” pungkasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak PDAM Sumekar belum bisa terkonfirmasi karena keterbatadan komunikasi. ***









