Pendakian Gunung Semeru Ditutup Untuk Menghormati Hari Raya Karo

- Redaktur

Minggu, 20 Juli 2025 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Pura Ulun Danu Ranu Pane. @by_News9.id

FOTO: Pura Ulun Danu Ranu Pane. @by_News9.id

LUMAJANG, NEWS9 – Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa yang dikenal sebagai primadona pendakian, akan ditutup sementara mulai 17 hingga 26 Agustus 2025.

Namun, penutupan kali ini bukan disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem maupun aktivitas vulkanik, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi adat Suku Tengger, Hari Raya Karo, sebuah perayaan budaya yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal.

“Penutupan jalur pendakian ini merupakan tindak lanjut atas permohonan resmi dari Pemerintah Desa Ranupani. Kami sangat menghargai tradisi dan kepercayaan masyarakat Tengger, dan berharap seluruh pendaki turut menunjukkan rasa hormat serupa”, tegas Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, dalam keterangan resminya, Kamis (17/07/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari Raya Karo merupakan salah satu ritual adat paling penting dalam kalender budaya Suku Tengger yang digelar setiap tahun sebagai penghormatan kepada leluhur dan kekuatan alam, perayaan ini tidak sekadar seremoni, melainkan wujud nyata dari upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Baca Juga:  Diterima Semua Kalangan, Muchlis Yakin Ra Fahmi Mampu Bawa PKB Menang

Bagi masyarakat Tengger, Gunung Semeru bukan hanya bentang alam, tapi simbol sakral yang menjadi poros kepercayaan dan peradaban mereka. Menjaga kesakralan gunung saat Hari Raya Karo adalah bagian dari warisan luhur yang diwariskan lintas generasi.

Sejalan dengan kebijakan penutupan, Balai Besar TNBTS memberikan ketentuan tegas bagi pendaki, yakni seluruh aktivitas pendakian dihentikan mulai 17 Agustus 2025 pukul 16.00 WIB.

Baca Juga:  Pelatihan Membatik: Langkah Nyata Lensa Madura Jaga Identitas Budaya Nusantara

Pendaki yang sudah berada di jalur pendakian wajib turun sebelum batas waktu tersebut. Kemudian, jalur pendakian akan dibuka kembali pada 27 Agustus 2025.

Kebijakan ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal kekayaan budaya lokal, sekaligus menumbuhkan rasa empati terhadap nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi masyarakat adat.

Penutupan sementara jalur pendakian Semeru menjadi cerminan bahwa pembangunan pariwisata dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan.

Hal itu bukan hanya soal menunda perjalanan ke puncak, tapi tentang memberi ruang kepada kearifan lokal untuk hidup dan dihormati.

“Indonesia bukan hanya indah karena alamnya, tetapi juga karena nilai-nilai luhur yang mengikat masyarakatnya. Hari Raya Karo mengingatkan kita bahwa menjaga warisan budaya adalah bagian dari menjaga jati diri bangsa”, ujar seorang budayawan lokal, Yanti Astutik, saat dimintai pendapat.

Bagi para pendaki dan pecinta alam, momen ini bisa menjadi refleksi, bahwa mencintai alam juga berarti memahami budaya yang hidup di sekitarnya.

Baca Juga:  Gubernur Khofifah Tegaskan Percepatan Penanganan Campak di Sumenep

Gunung Semeru akan tetap berdiri megah, namun menghormati tradisi yang mengakar adalah bentuk pendakian batin yang tak kalah penting.

“Semeru memang menanti untuk ditapaki kembali. Namun untuk saat ini, mari kita beri ruang bagi masyarakat Tengger menjalani ritus suci mereka. Karena dari gunung tertinggi di Jawa ini, kita belajar cinta alam, dimulai dari hormat pada budaya”, pungkasnya. ***

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gemerlap Petik Laut Rawatan Samudra 2026, Tradisi Leluhur Menjaga Laut Masalembu
Doa Sang Proklamator 2026, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Merawat Nasionalisme
Idul Adha Bukan Sekadar Penyembelihan, Melainkan Simbol Keikhlasan, Kemanusiaan, dan Kepedulian Sosial
BPRS Bhakti Sumekar Angkat Tari Mowang Sangkal ke Panggung Edukasi
Festival Ketupat 2026, Tradisi Lama Disulap Jadi Pesta Kreatif Memikat
Warisan Leluhur Tak Lekang Zaman: Seblang Olehsari Kembali Hidupkan Spirit Tradisi Using
Arca Dewa Wisnu di Area Keraton Sumenep
Ketika Ketetapan Busana Dijadikan Titah Kekuasaan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:27 WIB

Gemerlap Petik Laut Rawatan Samudra 2026, Tradisi Leluhur Menjaga Laut Masalembu

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:16 WIB

Doa Sang Proklamator 2026, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Merawat Nasionalisme

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:58 WIB

Idul Adha Bukan Sekadar Penyembelihan, Melainkan Simbol Keikhlasan, Kemanusiaan, dan Kepedulian Sosial

Jumat, 17 April 2026 - 12:08 WIB

BPRS Bhakti Sumekar Angkat Tari Mowang Sangkal ke Panggung Edukasi

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:13 WIB

Festival Ketupat 2026, Tradisi Lama Disulap Jadi Pesta Kreatif Memikat

Berita Terbaru

FOTO: (ilustrasi) Moh. Syaiful Anam alias Nanang, terduga bandar narkoba di wilayah Masalembu. @by_News9.id

HUKRIM

Bandar Narkoba Masalembu Melarikan Diri ke Malaysia

Kamis, 13 Agu 2026 - 10:49 WIB

FOTO: Barang bukti narkotika jenis sabu hasil Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026. @by_News9.id

HUKRIM

Satresnarkoba Polresta Sumenep Ungkap Kasus Sabu 4,28 Gram

Kamis, 13 Agu 2026 - 09:38 WIB