Akhir Tahun: Saat Buku Dosa Aparat Perlu Dibuka

- Editorial Team

Senin, 15 Desember 2025 - 14:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Mahbub Junaidi, S.H., Pegiat Anti Korupsi. @by_News9.id

FOTO: Mahbub Junaidi, S.H., Pegiat Anti Korupsi. @by_News9.id

OPININEWS9 – Akhir tahun selalu identik dengan evaluasi. Di banyak meja, laporan kinerja dirapikan. Di banyak ruang, prestasi dibingkai. Namun ada satu buku yang seharusnya ikut diganti sampulnya: buku catatan dosa.

Bukan untuk menghakimi, apalagi menggurui. Hanya sekadar membuka lembaran agar publik tahu, bahwa hukum tidak selalu berjalan sendirian, ia sering ditemani kompromi.

Tentang setoran-setoran yang konon sudah dianggap biasa. Dari galian C yang mengalir rutin, hingga praktik judi yang tak pernah benar-benar mati, hanya berpindah tempat dan nama.

Baca Juga:  Kapolres Sampang Luruskan Isu Perlindungan Terduga Pencuri

Tentang lima orang korban judi online yang semestinya dilindungi, namun justru “diselesaikan” dengan angka dua puluh juta rupiah per kepala, demi kebebasan yang semu.

Ada pula kisah perempuan-perempuan lemah, janda yang seharusnya mendapat perlindungan negara, justru menjadi objek bujuk rayu oknum berseragam, dengan dalih empati yang berujung pemanfaatan.

Belum lagi cerita BBM yang bermain di balik pagar, ditampung, dialirkan, seolah kantor negara berubah fungsi menjadi tangki kepentingan.

Baca Juga:  Tangisan Sang Kuda di Negeri yang Lupa

Ironisnya, kekerasan dan main hakim sendiri kerap dijustifikasi. Alasannya klise namun berulang: karena ada kebutuhan internal, karena ada sumbangan antar unit, karena tiap sektor di Kecamatan “harus ikut berpartisipasi”.

Bahkan urusan mencari besi pun berubah makna. Bukan lagi tugas, melainkan ongkos tiket pesawat, hotel, dan permintaan yang tak pernah tercatat di kuitansi negara.

Semua ini bukan dongeng akhir tahun. Bukan pula gosip warung kopi. Ini fakta, dan faktanya punya jejak.

Baca Juga:  Suara Rakyat Mulai Dipreteli Rezim Fasisme

Sebagian terekam, sebagian tersimpan, menunggu waktu yang tepat untuk bicara.

Akhir tahun seharusnya bukan hanya tentang menutup laporan, tetapi juga membuka keberanian, bahwa hukum tidak boleh hidup dari setoran, dan seragam tidak boleh menjadi tameng dosa. Karena cepat atau lambat, yang disembunyikan rapi akan tetap menemukan jalannya ke terang. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Surat AI pada Presiden dan Menhan
TEMPO Berjudi di Madura
Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?
Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)
Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI
Kecerdasan Buatan dan ‘kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Gambaran Konsep Maha Raya Festival Sumenep 2026
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Surat AI pada Presiden dan Menhan

Sabtu, 12 September 2026 - 22:52 WIB

TEMPO Berjudi di Madura

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:05 WIB

Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:39 WIB

Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI

Berita Terbaru

FOTO: Kepala Puskesmas Robatal, Benny Irawan, saat digiring ke Polres Sampang. @by_News9.id

Headline

Kapus Robatal Digiring ke Polres Sampang Usai Penggerebekan

Kamis, 8 Okt 2026 - 20:06 WIB