Aktivis atau Pelacur Moral? Ketika Perlawanan Dijual Murah

- Editorial Team

Senin, 26 Januari 2026 - 05:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: (ilustrasi) Aktivis atau kelompok palsu yang gemar mengklaim diri sebagai agen perubahan, namun nihil komitmen substantif. @by_News9.id

FOTO: (ilustrasi) Aktivis atau kelompok palsu yang gemar mengklaim diri sebagai agen perubahan, namun nihil komitmen substantif. @by_News9.id

OPININEWS9 – Istilah aktivis seharusnya identik dengan keberanian, konsistensi, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Dia lahir dari rahim perlawanan, tumbuh dari keberanian melawan ketidakadilan, dan hidup dari integritas moral.

Namun hari ini, makna itu kian kabur. Aktivisme tidak lagi sepenuhnya menjadi alat kontrol kekuasaan, melainkan pada sebagian kasus berubah menjadi aksesoris kekuasaan itu sendiri.

Sebagian masih berdiri tegak di garis perlawanan. Tapi sebagian lain justru tergelincir, menjadikan label aktivis sebagai topeng untuk transaksi kepentingan.

Mereka bukan lagi penjaga nurani publik, melainkan pedagang nilai yang lihai. Ironisnya, jika dibandingkan secara jujur, pelacur justru lebih bermoral.

Dia menjual diri secara sadar. Ada transaksi yang jelas, ada harga yang disepakati, dan tidak ada klaim moral yang dibungkus kepalsuan.

Baca Juga:  Manisnya Sunnah di Ujung Senja

Dia tidak mengaku pejuang rakyat, tidak bersembunyi di balik jargon keadilan, apalagi mengibarkan panji idealisme palsu.

Sementara sebagian aktivis hari ini justru lebih licik. Siang hari berteriak tentang keadilan, malam hari makan di meja kekuasaan.

Aksi demonstrasi dijadikan komoditas, tuntutan berubah menjadi alat tawar, dan massa dijadikan properti panggung.

Ketika ada amplop, suara bisa diredam. Ketika ada jabatan, idealisme bisa dikubur. Ini bukan lagi aktivisme, ini prostitusi moral. Menjual nilai, sering kali dengan harga yang murahan.

Padahal, secara sederhana, aktivis adalah individu yang secara aktif memperjuangkan visi dan misi organisasi atau gerakan demi kepentingan publik baik di bidang sosial, lingkungan, politik, buruh, petani, mahasiswa, maupun sektor lainnya.

Baca Juga:  Kecerdasan Buatan dan 'kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia

Bahkan KBBI menegaskan, aktivis adalah orang yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu dalam organisasinya. Lalu bagaimana jika yang dilakukan justru bertolak belakang?

Di titik inilah lahir apa yang layak disebut sebagai aktivis palsu. Individu atau kelompok yang gemar mengklaim diri sebagai agen perubahan, namun nihil komitmen substantif.

Retorika mereka memukau, penampilan mereka meyakinkan, tapi kerja nyatanya kosong.

Mereka rajin memainkan drama demonstrasi. Spanduk dibentang, toa dikeraskan, emosi publik dipancing bukan untuk perubahan, melainkan untuk tekanan dan transaksi.

Bahkan tak sedikit yang menjadikan aksi sebagai alat pemerasan, mengancam menambah massa jika kepentingan pribadi tak dipenuhi, lalu mendadak menghentikan aksi ketika deal tercapai.

Baca Juga:  Kematian Napi di Rutan Sumenep, Orang Tua Korban Menerima Sebagai Takdir

Yang diperjuangkan bukan keadilan, melainkan citra. Yang dibela bukan rakyat, melainkan kepentingan sendiri.

Praktik seperti ini bukan sekadar memalukan, tapi berbahaya. Ia merusak kepercayaan publik terhadap gerakan sosial yang sejati, mencemari perjuangan aktivis yang masih jujur, dan menjadikan aktivisme sebagai dagangan murahan di pasar kekuasaan.

Jika aktivisme terus dibiarkan dibajak oleh para penjual moral, maka jangan heran jika publik mulai muak, apatis, dan tak lagi percaya pada teriakan perubahan. Karena yang paling mematikan bagi demokrasi bukan kritik yang keras, melainkan perlawanan yang palsu. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

TEMPO Berjudi di Madura
Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?
Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)
Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI
Kecerdasan Buatan dan ‘kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Gambaran Konsep Maha Raya Festival Sumenep 2026
Mewujudkan Amanat Konstitusi: Langkah Nyata dan Peran Gerakan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 22:52 WIB

TEMPO Berjudi di Madura

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:05 WIB

Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:39 WIB

Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Kalau Tidak Berdampak, Bubarkan Saja KOPRI

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:50 WIB

Kecerdasan Buatan dan ‘kecerdasan’ Para Lansia di Indonesia

Berita Terbaru

FOTO: Korban saat di evakuasi dari TKP. @by_News9.id

PERISTIWA

Motor Terperosok ke Jurang 7 Meter, Pengendara Meninggal Dunia

Minggu, 27 Sep 2026 - 15:27 WIB

FOTO: Skuad Garuda saat melawan Singapura pada laga Grup A. @by_News9.id

OLAHRAGA

Timnas Indonesia Tundukkan Singapura 2-0

Minggu, 27 Sep 2026 - 15:03 WIB

FOTO: Agus Dwi Saputra, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, @by_News9.id

PEMERINTAHAN

Pemkab Sumenep Dorong Tenaga Kerja Lokal Terserap Dunia Industri

Minggu, 27 Sep 2026 - 07:11 WIB