MADIUN, NEWS9 – Sebanyak 27 siswa SDN 02 Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, mendapat penanganan medis setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan yang muncul usai mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (09/09/2026).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, para siswa sebelumnya menerima menu makanan berupa nasi putih, udang bakar, tahu bulat goreng, tumis wortel dan buncis, serta buah anggur. Makanan tersebut mulai dikonsumsi para siswa sekitar pukul 09.00 WIB.
Tidak berselang lama, sekitar pukul 09.30 WIB, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan berupa mual, pusing, sakit perut hingga muntah.
Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian dari pihak sekolah yang selanjutnya melakukan penanganan awal dan berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan para siswa memperoleh pertolongan medis.
Ari, salah seorang warga yang memiliki warung di depan SDN 02 Kanigoro, mengaku mengetahui adanya kejadian tersebut setelah seorang guru mendatangi warung miliknya.
Menurut Ari, guru yang diketahui bernama Slamet datang ke warung seusai jam istirahat untuk membeli kelapa muda.
Dalam kesempatan tersebut, Slamet menyampaikan bahwa sejumlah siswa mengalami muntah setelah mengonsumsi makanan.
“Pak Slamet datang ke warung membeli kelapa muda. Beliau mengatakan banyak siswa yang muntah setelah mengonsumsi makanan sekitar pukul 09.00 WIB,” ujar Ari.
Pasca munculnya keluhan kesehatan tersebut, pihak sekolah bersama instansi terkait melakukan langkah penanganan terhadap para siswa.
Sejumlah siswa kemudian dievakuasi ke fasilitas pelayanan kesehatan menggunakan ambulans dari dinas kesehatan terkait untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan perawatan medis.
Berdasarkan data penanganan sementara, sebanyak 10 siswa mendapat perawatan di Puskesmas Sukosari, sedangkan 17 siswa lainnya menjalani perawatan di RSUD Sogaten.
Selain keluhan kesehatan yang dialami para siswa, dalam laporan awal juga muncul informasi mengenai salah satu menu, yakni tahu bulat, yang diduga ditemukan dalam kondisi berjamur.
Namun demikian, informasi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Diperlukan pemeriksaan dan pengujian lebih lanjut terhadap sampel makanan maupun aspek lain yang berkaitan dengan proses penyediaan dan distribusi makanan MBG.
Dengan demikian, dugaan keracunan makanan dalam peristiwa tersebut masih bersifat indikasi awal dan belum dapat dipastikan sebagai akibat dari konsumsi menu tertentu.
Penentuan penyebab secara ilmiah membutuhkan hasil pemeriksaan dari instansi berwenang.
Penanganan medis terhadap para siswa dilakukan sebagai langkah preventif sekaligus memastikan kondisi kesehatan mereka dapat dipantau secara optimal.
Di sisi lain, pemeriksaan terhadap makanan yang telah dikonsumsi para siswa menjadi penting untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya faktor penyebab gangguan kesehatan.
Peristiwa ini juga menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan menyeluruh dalam pelaksanaan program MBG, mulai dari proses pengadaan bahan pangan, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh peserta didik.
Hingga berita ini diturunkan, para siswa masih menjalani perawatan dan pemantauan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang. ***
Penulis : GN
Editor : Seno CS
Sumber Berita: https://News9.id









