SUMENEP, NEWS9 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi salah satu program unggulan pemerintah menjadi sorotan masyarakat.
Di Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, sejumlah makanan yang dibagikan kepada siswa disebut tidak seluruhnya dikonsumsi.
Kritik tersebut mengarah pada pelaksanaan MBG di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Shohibul Qur’an Internasional, Kecamatan Masalembu.
Berdasarkan informasi yang disampaikan warga, menu yang dibagikan kepada anak-anak sekolah antara lain nasi, telur ceplok, kubis, wortel, buah kelengkeng, dan susu.
Namun, persoalannya bukan sekadar apa yang disajikan, melainkan apakah makanan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Bahkan, menurut keterangan warga, sebagian makanan dibawa pulang dan kemudian dibuang karena tidak dikonsumsi. Susu menjadi salah satu menu yang lebih banyak diminum siswa.
Warga Masalembu, Maktub Syarif, menilai pelaksanaan MBG perlu dievaluasi secara menyeluruh apabila makanan yang diberikan berulang kali tidak diminati siswa.
“Seharusnya program Makan Bergizi Gratis dievaluasi secara menyeluruh. Sejak pertama kali berjalan di sekolah, banyak makanan yang tidak dimakan siswa. Kalau menunya hanya nasi, telur, kubis dan susu, sementara anak-anak tidak berselera, bagaimana tujuan pemenuhan gizi bisa tercapai,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Menurut Maktub, pengelola SPPG semestinya tidak hanya berorientasi pada penyediaan makanan, tetapi juga memperhatikan tingkat penerimaan makanan oleh anak-anak.
Dia menilai selera makan anak berbeda-beda sehingga penyusunan menu semestinya mempertimbangkan aspek gizi sekaligus tingkat kesukaan dan kebiasaan makan penerima manfaat.
“Anak-anak punya selera makan yang berbeda. Tidak bisa hanya memaksakan menu berdasarkan kehendak pengelola. Kalau sejak awal mereka tidak tertarik dengan makanan yang diberikan, tujuan program untuk memenuhi kebutuhan gizi anak tentu menjadi pertanyaan,” katanya.
Maktub juga mendesak pihak terkait melakukan evaluasi terhadap SPPG Yayasan Shohibul Qur’an Internasional, khususnya terkait menu yang disebut kurang diminati siswa.
Menurutnya, evaluasi penting dilakukan agar anggaran yang digunakan untuk program MBG benar-benar menghasilkan manfaat bagi penerima.
“Anggaran MBG sangat besar. Kalau makanan yang disajikan ternyata tidak dimakan dan akhirnya dibuang, tentu harus menjadi bahan evaluasi. Jangan sampai makanan yang seharusnya memenuhi kebutuhan gizi anak justru berakhir menjadi sampah,” tegasnya.
Sorotan tersebut tidak hanya menyangkut soal selera makanan. Ada persoalan yang lebih besar, yakni efektivitas penggunaan anggaran dan tercapai atau tidaknya tujuan program MBG di tingkat penerima manfaat.
Sebab, makanan yang secara administratif telah dibagikan belum tentu berarti program telah berhasil.
Ukuran keberhasilan juga semestinya dilihat dari apakah makanan tersebut dikonsumsi dan memberikan manfaat gizi kepada anak-anak.
Sementara itu, Kepala SPPG Yayasan Shohibul Qur’an Internasional, Herly Qomariyah, melalui grup Masalembu menyampaikan bahwa menu yang disajikan memang sama untuk seluruh penerima.
“Menu kami hari ini semua sama, Pak. Hanya beda di porsi saja, Bapak,” ujarnya.
“Mohon maaf ya Bpk/ibu…atas kejadian ini saya pribadi merasa miris ketika nasi yang seharusnya menjadi kebutuhan kita sehari-hari dibiarkan berserakan tanpa ada yang peduli, walaupun sebgian dari kita ada yang tidak suka, baik kepada MBG ataupun menu makananannya yang tidak sesuai selera pribadi, tolong jagan dibuang, biarkan saja tetap ada di ompreng, ambil apa yang bisa di makan dari menu kita, biar nanti bekas makanan kita jadikan pertimbangan menu selanjutnya,” cetusnya. ***
Penulis : Nola
Editor : Seno CS
Sumber Berita: https://News9.id









