SUMENEP, NEWS9 – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Sumenep terus menjadi perhatian.
Hingga Agustus 2026, fasilitas kesehatan mencatat sebanyak 1.970 kasus ISPA.
Angka tersebut sudah mendekati 70 persen dari total sekitar 2.844 kasus ISPA sepanjang 2025.
Di tengah meningkatnya kasus gangguan pernapasan tersebut, perhatian terhadap influenza juga menguat.
Sejumlah daerah di Jawa Timur mulai mencatat peningkatan kasus influenza, termasuk Surabaya.
Dinas Kesehatan Surabaya mencatat 40.539 kasus influenza sepanjang Januari hingga Agustus 2026 yang ditemukan melalui puskesmas dan rumah sakit.
Peningkatan mulai terlihat pada Juli-Agustus dan berlanjut pada periode berikutnya.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah peningkatan Influenza A di sejumlah daerah Jawa Timur juga mulai terjadi di Sumenep?
Jawabannya belum bisa dipastikan.
Pasalnya, ISPA tidak sama dengan Influenza A. ISPA merupakan kelompok penyakit saluran pernapasan yang dapat disebabkan berbagai jenis virus maupun bakteri. Influenza hanya salah satu penyebabnya.
Karena itu, angka 1.970 kasus ISPA di Sumenep tidak bisa serta-merta disebut sebagai 1.970 kasus Influenza A.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan aktivitas influenza di Indonesia memang mengalami peningkatan.
Pada salah satu periode pemeriksaan, proporsi spesimen positif influenza mencapai sekitar 38 persen.
Angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 46 persen dan kembali naik hingga sekitar 56 persen pada pemeriksaan berikutnya.
Dari spesimen positif tersebut, mayoritas merupakan Influenza A(H1N1)pdm09, sementara sebagian lainnya A(H3N2) dan Influenza B/Victoria.
Artinya, meningkatnya influenza saat ini tidak otomatis berarti masyarakat sedang menghadapi apa yang populer disebut sebagai “super flu”.
Justru berdasarkan pemeriksaan nasional, H1N1pdm09 menjadi jenis yang paling banyak ditemukan.
Pemerintah juga belum menetapkan kondisi tersebut sebagai keadaan darurat.
Berdasarkan hasil surveilans, aktivitas influenza di puskesmas masih berada pada kategori sedang, sementara surveilans rumah sakit berada pada kategori rendah.
Kenaikan aktivitas influenza juga mulai terlihat di Jawa Timur.
Surabaya menjadi salah satu daerah dengan angka cukup besar. Sementara di Malang, pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah kasus influenza juga menemukan adanya Influenza A, termasuk H3N2 dan H1N1.
Namun data tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Jawa Timur sedang terjangkit Influenza A.
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan terhadap spesimen tertentu melalui sistem surveilans.
Dengan demikian, data tersebut tidak otomatis menggambarkan seluruh kasus influenza di masyarakat.
Persoalan justru berada pada ketersediaan data di tingkat daerah.
Dinkes P2KB Sumenep sebelumnya telah mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza, termasuk Influenza A.
Warga yang mengalami demam, menggigil, nyeri tubuh, batuk, atau kondisi yang semakin berat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Namun hingga awal Oktober 2026, belum terlihat data publik yang secara rinci menunjukkan berapa kasus Influenza A di Sumenep yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Ketiadaan data tersebut bukan berarti Influenza A tidak ada di Sumenep.
Sebaliknya, data itu menunjukkan masih adanya ruang yang perlu diperjelas agar masyarakat tidak mendapatkan informasi yang keliru. Apalagi angka ISPA di Sumenep sudah mencapai 1.970 kasus hingga Agustus.
Di tengah meningkatnya kasus influenza nasional dan sejumlah daerah Jawa Timur, masyarakat memang perlu waspada.
Tetapi kewaspadaan harus dibangun berdasarkan data, bukan kepanikan. 1.970 kasus ISPA bukan berarti 1.970 kasus Influenza A.
Dinkes P2KB Sumenep perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai perkembangan penyakit saluran pernapasan di daerah ujung timur pulau Madura ini.
Sebab, ketika kasus influenza mulai meningkat di tingkat nasional dan sejumlah wilayah Jawa Timur, Sumenep tidak cukup hanya mengimbau masyarakat untuk waspada. Data yang jelas juga dibutuhkan.
Sementara, fakta yang tersedia menunjukkan bahwa kasus ISPA di Sumenep cukup tinggi, sementara aktivitas influenza di Indonesia sedang meningkat.
Namun belum ada dasar yang cukup untuk menyebut 1.970 kasus ISPA di Sumenep sebagai wabah Influenza A.
Masyarakat perlu waspada, tetapi tidak perlu panik. Dan yang paling dibutuhkan sekarang adalah keterbukaan data dan kewaspadaan dini. ***
Penulis : Seno
Editor : Redaksi
Sumber Berita: busacare.com









