SUMENEP, NEWS9 – Peredaran narkotika di Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mencekam generasi penerus bangsa.
Bisnis haram tersebut bukan hanya masih eksis, namun disebut-sebut semakin tumbuh subur, seolah tanpa hambatan berarti dari aparat penegak hukum.
Ironisnya, salah satu lokasi transaksi narkoba dikabarkan hanya berjarak sekitar 60 meter dari kantor Polsek Masalembu.
Fakta itu memicu pertanyaan besar publik tentang keseriusan dan efektivitas aparat dalam memberantas peredaran barang haram tersebut.
Narkotika jenis sabu masih diduga masuk melalui jalur laut dan menjadi bagian dari jaringan bisnis gelap yang terorganisir rapi.
Kondisi itu memperparah citra Masalembu sebagai wilayah yang mulai diidentikkan dengan sarang narkoba.
Saipur Rahman, Ketua Satgas BANAAR Ansor sekaligus anggota DPRD Sumenep dari Fraksi PKB Dapil 7, angkat bicara mengenai fenomena tersebut.
Saat dikonfirmasi News9.id, dia mengajak masyarakat untuk bersama-sama waspada dan introspektif.
“Mari jaga anak-anak kita dari pengaruh pergaulan buruk. Kita harus berani bertanya kenapa pulau yang kita cintai bisa menjadi sarang narkoba? Jangan lepas dari spiritualitas, perbanyak sholawat, minta bimbingan Kanjeng Nabi agar dijauhkan dari hal-hal negatif seperti narkoba,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).
Lebih lanjut, Saipur mengingatkan bahwa terkadang masyarakat terjebak dalam anggapan bahwa pelaku peredaran narkoba adalah pihak yang semata-mata harus ditindak.
Padahal, menurutnya, kesadaran spiritual dan sosial dapat menjadi tameng utama.
“Kalau kita sadar, dan Allah memberi kesadaran, meskipun sabu segunung pun disodorkan, tidak akan kita sentuh,” ujarnya.
Sebagai putra daerah, Saipur menegaskan bahwa semua pihak khususnya Aparat Penegak Hukum (APH) memiliki tanggung jawab besar untuk tidak tinggal diam.
Ia mendesak agar APH benar-benar hadir secara aktif dan nyata dalam menangani persoalan narkoba yang merusak masa depan generasi muda Masalembu. ***












