HUKUM & KRIMINAL

Begini Kronologi Peristiwa Berdarah di Ketapang Sampang Versi Polda Jatim

606
×

Begini Kronologi Peristiwa Berdarah di Ketapang Sampang Versi Polda Jatim

Sebarkan artikel ini
Foto: Kombes Pol Farman Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jatim pada Press Conference di Markas Polda (Mapolda) Jatim, @by_News9.id
Foto: Kombes Pol Farman Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jatim pada Press Conference di Markas Polda (Mapolda) Jatim, @by_News9.id

SURABAYA, News9 – Motif pembacokan hingga menewaskan Jimmy Sugito Putra di Dusun Nangger, Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Sampang, Madura, Jawa Timur, Minggu (17/11/24) lalu terungkap.

Terungkapnya peristiwa berdarah itu disampaikan oleh Kombes Pol Farman Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jatim pada Press Conference di Markas Polda (Mapolda) Jatim, Kamis (21/11/24).

Dijelaskan, berawal dari kunjungan H Slamet Junaidi Calon Bupati (Cabup) nomor 2 bersama rombongan ke Padepokan Babussalam yang di asuh Kyai Muallif, Desa Ketapang Laok, sekitar pukul 14.30 WIB Minggu (17/11/24), karena mendadak Kyai Muallif mengumpulkan jama’ahnya untuk menyambut kedatangan H Slamet Junaidi dan rombongan.

Mengetahui kedatangan rombongan H Slamet Junaidi dan melintas di depan rumahnya menuju Padepokan Kyai Muallif, Kyai Hamdudin tidak terima sehingga berupaya memblokade jalan untuk menghalangi akses jalan keluar dari Padepokan dengan mobil dan potongan kayu.

Baca Juga:  Andre Tri Waluyo Desak Ketua PSSI Banyuwangi Mundur Usai Kericuhan Stadion Maron

Saat itu Kyai Hamdudin yang diketahui masih ada hubungan keluarga dengan Kyai Muallif menganggap kunjungan tersebut tanpa seijinnya, apalagi hingga mengumpulkan jama’ah dzikir tanpa kulonuwun kepadanya selaku Tokoh Agama setempat.

Tak terima dengan perlakuan kelompok Kyai Hamdudin, Kyai Muallif memerintahkan Jimmy Sugito Putra (korban) yang dibantu oleh tiga orang lainnya Muadi, Mat Yazid dan Abdussalam untuk membujuk Kyai Hamdudin agar membuka jalan yang sudah di blokade.

“Namun Kyai Hamdudin menolak dan menyarankan rombongan supaya melewati jalur lain, dan salah satu dari kelompok Kyai Muallif ini melontarkan kalimat “Mon a carok ghi’ degghik yeh” (Kalau mau Carok nanti saja),” ujar Kombes Pol Farman menirukan percakapan yang terlontar.

Masih menurut Kombes Pol Farman seolah menirukan hasil percakapan dilokasi kejadian, saat itu Kyai Hamdudin sempat mengatakan bahwa Kyai Muallif itu kurang ajar karena sebagai warga pendatang kok mendatangkan orang luar”, tak terima dengan pernyataan tersebut Afrofi orang suruhan Kyai Muallif menanyakannya “Kurang ajarnya dimana dan salahnya juga dimana, kan kesini hanya mampir, gak enak kan kalau ditolak”.

Baca Juga:  Gembar-gembor Sosialisasi, Narkoba di Masalembu Pindah Tempat: Bandar Tetap Bebas

Karena cekcok mulut itu makin panas, Afrofi diminta masuk ke Padepokan Kyai Muallif oleh Jimmy Sugito Saputra seraya melindunginya dari kejaran kelompok Kyai Hamdudin.

“Dari insiden tersebut muncul isue Kyai Hamdudin dipukul oleh kelompok Kyai Muallif, dan dampaknya kelompok Kyai Hamdudin marah hingga terjadilah penganiayaan terhadap Jimmy Sugito Putra (korban),” imbuh Kombes Pol Farman.

Ditambahkan, dari peristiwa tersebut Penyidik telah menetapkan tiga Tersangka yakni Moh Suaidi, Fendi Sranum dan Abdul Rohman.

Baca Juga:  Korban Pelecehan Seksual di UNIBA Madura Mengadu ke Komnas Perempuan, Dear Jatim Desak Rektor Diperiksa

Ketiga Tersangka ini dijerat dengan pasal 170 ayat 2 ke 3e KUHP tentang Kekerasan yang menyebabkan kematian dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan saat ini ketiga Tersangka ditahan di Rutan Polda Jatim. ***