Misteri “Hukum Bolak-Balik” Sumenep: Ancaman 7 Tahun Kasus ODGJ Sapudi Menguap, Dakwaan Pengeroyokan Runtuh di Persidangan

- Redaktur

Kamis, 8 Januari 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Pemimpin Madura Ekspose Sumenep, @by_News9.id

FOTO: Pemimpin Madura Ekspose Sumenep, @by_News9.id

OPININEWS9 – Konstruksi hukum kasus dugaan pengeroyokan terhadap Sahwito, seorang ODGJ asal Pulau Sapudi, resmi dinyatakan “ambruk” di meja hijau.

Perkara yang awalnya digembar-gemborkan sebagai pengeroyokan brutal dengan ancaman tujuh tahun penjara, kini hanya menyisakan tuntutan enam bulan penjara bagi empat terdakwa: Asip, Musahwan, Suud, dan Tolak Edy.

Sidang lanjutan yang digelar Rabu (7/1/2026) di Pengadilan Negeri Sumenep ini menjadi panggung bagi fenomena yang oleh publik setempat dijuluki sebagai “Hukum Bolak-Balik”. Sebuah kondisi di mana kepastian hukum tampak terombang-ambing antara narasi penyidikan dan fakta persidangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kejanggalan Prosedur: Pergantian Jaksa yang Tiba-tiba. Suasana di ruang sidang sempat memicu tanya ketika sosok Hanis Aristya Hermawan, S.H., M.H., yang selama ini bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) utama, tidak tampak. Publik menyaksikan Pergantian Jaksa yang Tiba-tiba saat Harry Achmad Dwi Maryono muncul sebagai jaksa pengganti untuk membacakan tuntutan.

Baca Juga:  Penemuan Jenazah Diduga Bunuh Diri di Sungai Bengawan Solo, Polsek Babat Evakuasi Korban

Dalam dunia peradilan, pergantian personil di detik-detik krusial pembacaan tuntutan sering kali dipandang sebagai sinyal adanya diskontinuitas atau ketidakyakinan internal terhadap kekuatan pembuktian berkas perkara yang disusun sejak tahap penyidikan.

Runtuhnya Pasal 170 KUHP dan Logika “Hukum Bolak-Balik” Langkah Jaksa Harry yang mencopot dakwaan primair Pasal 170 KUHP (Pengeroyokan) dan beralih ke dakwaan subsidair Pasal 351 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP merupakan pengakuan tidak langsung bahwa bangunan perkara yang disusun Polres Sumenep tidak kokoh.

Baca Juga:  Polres Lumajang Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Koplo

Filsafat hukum pidana mengenal asas Similia Similibus, namun dalam kasus ini, keadilan justru tampak terbolak-balik. Musahwan, yang secara fakta dipersidangan merupakan korban cekikan Sahwito hingga nyaris tewas, justru tetap didudukkan sebagai terdakwa. Sementara Suud yang melerai demi menyelamatkan nyawa, malah dipaksa menelan tuntutan pidana.

Substansi Tuntutan yang Absurd

Kuasa hukum terdakwa, Marlaf Sucipto, mengecam keras isi tuntutan yang dianggapnya cacat logika. Menurutnya, Jaksa justru lebih sibuk menguraikan tindak kekerasan yang dilakukan oleh sang ODGJ ketimbang membuktikan kesalahan kliennya.

“Jaksa justru menjelaskan perbuatan ODGJ. Sementara perbuatan para terdakwa tidak dijelaskan secara tegas. Siapa memukul siapa dan di mana letak kesengajaannya? Semua kabur,” kritik Marlaf usai sidang.

Keabsurdan kian kental ketika fakta mengungkap bahwa Snawi, eksekutor yang secara langsung mengikat Sahwito, hanya berstatus saksi. Di sisi lain, H. Musahwi yang menyandang status tersangka dalam berkas perkara, hingga kini tak pernah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Baca Juga:  Rokok Ilegal dari Madura Terbongkar di Ketapang, Bea Cukai Sita 6,5 Juta Batang

Menanti Keadilan Substantif

Tragedi hukum di Sapudi ini menjadi cermin retak penegakan hukum di ujung timur Madura. Istilah “Hukum Bolak-Balik” bukan sekadar sindiran, melainkan gambaran nyata betapa rentannya rakyat kecil menjadi korban “eksperimen” pasal ketika proses hukum kehilangan kompas keadilan substantifnya.

Kini, palu hakim menjadi harapan terakhir untuk meluruskan nalar hukum yang sempat terbolak-balik, sekaligus membuktikan apakah pengadilan masih menjadi benteng bagi mereka yang hanya mencoba menyelamatkan nyawa dari situasi darurat. ***

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bandar Narkoba Masalembu Melarikan Diri ke Malaysia
Satresnarkoba Polresta Sumenep Ungkap Kasus Sabu 4,28 Gram
Program Lisdes di Batang-Batang Daya Berujung Laporan Polisi
Dituduh Curi Emas, HP Dirampas: Siasat Culas Kanit Reskrim Polsek Masalembu
ASN DPUTR Sumenep Diduga Aniaya Warga, Korban Malah Dilaporkan Balik
Berawal dari Stalking Medsos, Perempuan Diduga Dianiaya Istri Mantan Kekasih hingga Dibawa Keliling
Kuasa Hukum Pekerja Menangkan Gugatan, Atas Pemecatan Sepihak Oleh PT Sukanda Djaya
Dua Laporan, Satu Terlapor: Penyidikan Polsek Masalembu Diduga Sarat Kejanggalan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:49 WIB

Bandar Narkoba Masalembu Melarikan Diri ke Malaysia

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:38 WIB

Satresnarkoba Polresta Sumenep Ungkap Kasus Sabu 4,28 Gram

Rabu, 12 Agustus 2026 - 23:45 WIB

Program Lisdes di Batang-Batang Daya Berujung Laporan Polisi

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:40 WIB

Dituduh Curi Emas, HP Dirampas: Siasat Culas Kanit Reskrim Polsek Masalembu

Minggu, 9 Agustus 2026 - 19:14 WIB

ASN DPUTR Sumenep Diduga Aniaya Warga, Korban Malah Dilaporkan Balik

Berita Terbaru

FOTO: (ilustrasi) Moh. Syaiful Anam alias Nanang, terduga bandar narkoba di wilayah Masalembu. @by_News9.id

HUKRIM

Bandar Narkoba Masalembu Melarikan Diri ke Malaysia

Kamis, 13 Agu 2026 - 10:49 WIB

FOTO: Barang bukti narkotika jenis sabu hasil Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026. @by_News9.id

HUKRIM

Satresnarkoba Polresta Sumenep Ungkap Kasus Sabu 4,28 Gram

Kamis, 13 Agu 2026 - 09:38 WIB