Dugaan Jual LKS dan Tarik Iuran Bulanan SD Negeri Rogotrunan 02 Lumajang Jadi Sorotan

- Editorial Team

Rabu, 9 September 2026 - 17:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Kartu Iuran siswa SDN 02 Rogotrunan lumajang. @by_News9.id

FOTO: Kartu Iuran siswa SDN 02 Rogotrunan lumajang. @by_News9.id

LUMAJANG, NEWS9 – SD Negeri Rogotrunan 02, kecamatan Lumajang, kabupaten Lumajang, diduga melakukan praktik penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menarik bermacam-macam iuran bulanan yang mengatasnamakan paguyuban kelas.

Dugaan tersebut mencuat dari sejumlah keluhan wali murid yang merasa terbebani dengan biaya-biaya berulang di luar ketentuan sekolah negeri gratis.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, beberapa wali murid mengaku diminta membeli LKS terbitan tertentu dengan harga bervariasi.

Selain itu, terdapat pula iuran bulanan yang disebut-sebut untuk kebutuhan siswa, yang dikoordinir paguyuban.

Hal tersebut dibuktikan dengan terbitnya kartu iuran dan percakapan via WA di grup paguyuban sekolah, dan pembayarannya dikoordinir wali kelas masing-masing.

Ketua komite SD Negeri Rogotrunan 02, saat dikonfirmasi awak media News9 mengiyakan semua itu.

“Sebetulnya saya sudah tidak sanggup lagi menjadi ketua komite, tetapi dalam pemilihan komite kemarin, Senin (20/07/2026) tetap masih dipilih lagi. Saya mengeluh saat pembahasan buku LKS, kasihan pada wali murid yang kurang mampu. Kan sudah ada buku pinjaman yang dari dana BOS, harga total buku LKS 142 ribu rupiah per siswa yang di luar dana BOS”, ujarnya.

“Sekarang kalau memang sudah ada buku pinjaman dari pemerintah, buat apa kita beli buku LKS. Sebenarnya saya sudah mbantah, tapi gimana lagi kalau penjualan sudah blak-blakan, berarti pemerintah kan sudah mengijinkan. Kalau misalnya saya tidak beli, kan kasihan anak ketinggalan di pelajaran itu. Mau gak mau otomatis ya beli, lama-lama anak tambah stres, sudah ada yang dari pemerintah tetapi masih menggunakan buku LKS yang beli”, ungkapnya.

Praktik seperti itu berpotensi melanggar aturan pemerintah tentang sekolah negeri gratis. Berdasarkan regulasi Kementerian Pendidikan, sekolah negeri dilarang keras memungut biaya yang bersifat wajib dari orang tua/wali murid, termasuk penjualan LKS yang seharusnya dapat disediakan melalui anggaran BOS atau sumber dana resmi lainnya.

Baca Juga:  Camat Arjasa Respons Keluhan Warga: Pohon Rawan Tumbang Langsung Ditangani

Iuran yang mengatasnamakan paguyuban kelas juga harus bersifat sukarela, transparan, dan disepakati bersama melalui komite sekolah.

Jika ada indikasi pemaksaan atau ketidakjelasan penggunaan dana, hal ini dapat dikategorikan sebagai pungutan liar (pungli).

Baca Juga:  Tingkatkan Akses Jalan, Babinsa Bago Turut Serta dalam Pembangunan Rabat Beton

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Lumajang diminta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pihak kepala sekolah SDN Rogotrunan 02 berkali-kali ditelepon, melalui WA dan didatangi ke sekolahan tidak pernah ada respon.

Bahkan ada dugaan memakai pihak ketiga untuk menangani masalah SDN Rogotrunan 02, dibuktikan dengan adanya telepon nomor tidak terdaftar yang menghubungi awak media. Berharap menghubunginya kalau ada masalah di SDN Rogotrunan 02, ada dugaan kepala sekolah memberikan nomor telepon kepadanya tanpa seijin yang bersangkutan.

Baca Juga:  PNS Ngopi Saat Upacara Bupati, Ipung: Jangan Sampai Jadi “PNS Pap Pa’an”

Menanggapi hal tersebut, Dinas Pendidikan kabupaten Lumajang melalui sekretaris dinas (Sekdin) dindik Lumajang saat dikonfirmasi mengatakan, bahwa akan menindaklanjuti.

“Kami akan menindaklanjuti laporan ini, dan akan merekomendasikan kepada bidang terkait”, jelas Sekdin.

Bukti kuat, dokumen kartu pembayaran dan pesan WhatsApp di grup paguyuban sekolah, serta pengaduan wali murid dan pernyataan ketua komite sekolah SDN Rogotrunan 02.

Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh sekolah negeri di Lumajang agar tetap mematuhi aturan tentang sekolah gratis dan transparansi keuangan. Orang tua murid berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas tanpa dibebani biaya-biaya tidak jelas. ***

Facebook Comments Box

Penulis : Kris

Editor : Seno CS

Sumber Berita: https://News9.id

Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kades Prenduan Akui Pernah Tegur Aktivitas Pengerukan Tanah
Dugaan Kedekatan Direktur BPRS Bhakti Sumekar dengan Perempuan Asal Kangean
Suami Merantau Cari Nafkah, Istri di Rumah Selingkuh
Kebakaran Bengkel Tambal Ban di Pasar Sayur Caruban, Pemilik Alami Luka Bakar Serius 
Berkedok Bangun Toko, Pengerukan Tanah di Prenduan Ancam Permukiman dan Jalan Raya
Polisi Selidiki Tewasnya Pemuda di Wonomerto Probolinggo
Mobil Dinas Kepolisian Serobot Antrean Solar di SPBU Ganding
Diduga Ada Selisih 30 Kg Penyaluran Benih Padi Inpari 33 di Ganding, Poktan Minta Penjelasan BPP
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 12:45 WIB

Kades Prenduan Akui Pernah Tegur Aktivitas Pengerukan Tanah

Jumat, 6 November 2026 - 10:38 WIB

Dugaan Kedekatan Direktur BPRS Bhakti Sumekar dengan Perempuan Asal Kangean

Jumat, 6 November 2026 - 10:10 WIB

Suami Merantau Cari Nafkah, Istri di Rumah Selingkuh

Rabu, 4 November 2026 - 16:48 WIB

Berkedok Bangun Toko, Pengerukan Tanah di Prenduan Ancam Permukiman dan Jalan Raya

Senin, 2 November 2026 - 20:56 WIB

Polisi Selidiki Tewasnya Pemuda di Wonomerto Probolinggo

Berita Terbaru

FOTO: Lokasi aktivitas pengerukan tanah di Dusun Cecek, Desa Prenduan, @by_News9.id

PERISTIWA

Kades Prenduan Akui Pernah Tegur Aktivitas Pengerukan Tanah

Jumat, 6 Nov 2026 - 12:45 WIB

FOTO: (ilustrasi) Sang istri berinisial DS diduga menjalin hubungan spesial dengan laki-laki lain. @by_News9.id

PERISTIWA

Suami Merantau Cari Nafkah, Istri di Rumah Selingkuh

Jumat, 6 Nov 2026 - 10:10 WIB