LUMAJANG, NEWS9 – Hormati Indonesia Raya, Hormati Jiwa Bangsa, ditegaskan bupati Lumajang saat gelar Sarasehan Refleksi Akhir Tahun Kerjasama Dengan Forum Perguruan Tinggi Swasta Lumajang (FPTSL).
Setiap kali nada megah Indonesia Raya mengalun, seharusnya hati kita ikut bergetar.
Lagu kebangsaan bukan sekadar irama, melainkan simbol perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa demi kemerdekaan, Selasa (23/12/2025).
Diungkapkan Bupati Lumajang, Indah Amperawati, bahwa dirinya sangat menyayangkan kesadaran warga terhadap lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Sayangnya, kesadaran warga kita untuk menghormatinya masih jauh dari ideal. Banyak yang terlihat berdiri sambil asyik main ponsel, mengobrol, atau bahkan duduk santai saat upacara bendera, baik di sekolah, stadion, maupun acara resmi. Fenomena ini mencerminkan erosi nilai nasionalisme di tengah gempuran budaya instan era digital,” ungkap Bupati Indah.
Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa pelanggaran etika upacara bendera masih sering terjadi di kalangan pelajar, hal itu bukan hanya masalah disiplin, tapi kegagalan kolektif dalam menanamkan rasa bangga berbangsa.
Padahal, menghormati lagu kebangsaan Indonesia Raya semudah berdiri tegak, diam, dan meletakkan tangan di dada.
Tindakan sederhana itu memperkuat ikatan emosional kita dengan sejarah dan satu sama lain.
Pemerintah, sekolah, dan tokoh masyarakat harus gencar mengkampanyekan edukasi ini melalui media sosial dan kurikulum.
Lebih dari itu, mari kita introspeksi: apakah kita masih layak menyebut diri anak bangsa jika simbol kebangsaan kita diperlakukan seenaknya?.
“Menghormati lagu Indonesia Raya bukan kewajiban formal, tapi panggilan hati untuk menjaga api semangat kemerdekaan tetap menyala. Saatnya kita bangkit, berdiri lurus, dan nyanyikan dengan penuh jiwa untuk Indonesia yang lebih bangga. Sebagai bupati, saya prihatin melihat masih banyak warga yang kurang sadar saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan, baik di upacara bendera, pertandingan olahraga, maupun acara resmi lainnya,” ujar Bupati Indah.
“Banyak yang terlihat duduk, mengobrol, atau sibuk dengan ponsel, padahal ini adalah momen sakral yang melambangkan perjuangan para pahlawan kita. Menghormati Indonesia Raya bukan sekadar protokol, tapi bentuk cinta tanah air yang harus tertanam dalam jiwa setiap warga. Di Lumajang kita telah catatkan kasus serupa di sekolah dan stadion lokal. Oleh karena itu, mulai hari ini, Pemkab akan luncurkan kampanye ‘Berdiri Tegak untuk Indonesia’, bekerja sama dengan sekolah, camat, dan tokoh masyarakat. Mari kita wujudkan kesadaran kolektif. Berdiri lurus, letakkan tangan di dada, dan rasakan getar semangat kemerdekaan. Indonesia Raya bukan hanya lagu, tapi denyut nadi bangsa kita. Terima kasih,” pungkas Bupati Indah Amperawati. ***












